Kamis, 18 Juli 2019 0 komentar

Cara Membuat Anak Berani Sekolah Tanpa Didampingi Orangtua ...


Anak yang tidak fokus di sekolah cenderung mengalami kesulitan untuk mengikuti pelajaran dengan baik. Tapi bukan berarti anak tidak mampu belajar ya.
Jika Parents mengalami hal sama berarti ini adalah sebuah tantangan bagi orangtua dan guru. Jangan sampai kita merasa "Gagal dalam mendidik anak".
Mari kita benahi dan evaluasi terlebih dahulu sebagai Orangtua untuk mendidik anak dan cari tahu di mana minat dan bakatnya.
 memberikan 5 tips nih untuk Parents supaya bisa lebih memahami anaknya:

1. Mulailah pendekatan terhadap anak
Seberapa dekat Anda dengan anak? Apakah kita sering mengajaknya untuk bicara dari hati ke hati setiap harinya? Apakah saat berbicara dengan anak, kita sudah melakukannya secara dua arah? Kalau belum, segeralah buat waktu bersama;

2. Cari tahu sumber kesulitan/masalah anak di sekolah
Tak semua anak memiliki kemampuan untuk mengekspresikan apa yang ia rasakan, pikirkan, dan lakukan. Jika hal ini terjadi pada anak kita, lakukan penelitian tentangnya. Apakah karena Sekolahnya? Teman sekolahnya? atau Pelajaran tertentu;

3. Sebagai Orangtua, dengarkan saja & pahami
Saatnya mengubah perilaku. Cobalah untuk belajar mendengar. Beberapa anak membutuhkan waktu lama agar dapat terlibat dalam obrolan bersama keluarganya.
Melakukan kebiasaan baru akan membutuhkan waktu beberapa lama untuk menjalaninya. Jadi, biasakan ini sampai kita hafal bagaimana mengajak si anak berbicara.
Dari sini, anak akan mulai memahami bahwa apapun yang ia katakan, ia akan didengar dan dipahami oleh orangtuanya. Lakukan dialog dua arah dan pertimbangkan pendapatnya;

4. Bekerjasama dengan guru di sekolah
Sampaikan kepada guru di sekolahnya. Jika masalah yang dihadapi oleh anak adalah topik pelajaran yang membosankan, maka variasikan pelajaran dengan hal yang ia suka. Misal, bantu ia memahami masalah seputar belajar dengan cara mengaitkan antara mata pelajaran dengan tokoh kartun idolanya,dsb;

5. Cari tahu minat belajar dan bakat anak
Tentu, sebagai Orangtua mau tahu di pelajaran apa yang paling di minati anak. Tapi bukan berarti kalau gak minat, di abaikan ya. Maksudnya, bagian pelajaran yang di minati haruslah lebih di maksimalkan. Supaya potensinya semakin berkembang.
Ada yang mau tambahkan lagi TIPS nya? Pastinya akan bermanfaat untuk Parents yang lainnya. Salam hangat 😀
0 komentar

MEMBUAT ANAK KEMBALI FOKUS BELAJAR


Anak yang tidak fokus di sekolah cenderung mengalami kesulitan untuk mengikuti pelajaran dengan baik. Tapi bukan berarti anak tidak mampu belajar ya.
Jika Parents mengalami hal sama berarti ini adalah sebuah tantangan bagi orangtua dan guru. Jangan sampai kita merasa "Gagal dalam mendidik anak".
Mari kita benahi dan evaluasi terlebih dahulu sebagai Orangtua untuk mendidik anak dan cari tahu di mana minat dan bakatnya.
Sungarden Indonesia memberikan 5 tips nih untuk Parents supaya bisa lebih memahami anaknya:

1. Mulailah pendekatan terhadap anak
Seberapa dekat Anda dengan anak? Apakah kita sering mengajaknya untuk bicara dari hati ke hati setiap harinya? Apakah saat berbicara dengan anak, kita sudah melakukannya secara dua arah? Kalau belum, segeralah buat waktu bersama;

2. Cari tahu sumber kesulitan/masalah anak di sekolah
Tak semua anak memiliki kemampuan untuk mengekspresikan apa yang ia rasakan, pikirkan, dan lakukan. Jika hal ini terjadi pada anak kita, lakukan penelitian tentangnya. Apakah karena Sekolahnya? Teman sekolahnya? atau Pelajaran tertentu;

3. Sebagai Orangtua, dengarkan saja & pahami
Saatnya mengubah perilaku. Cobalah untuk belajar mendengar. Beberapa anak membutuhkan waktu lama agar dapat terlibat dalam obrolan bersama keluarganya.
Melakukan kebiasaan baru akan membutuhkan waktu beberapa lama untuk menjalaninya. Jadi, biasakan ini sampai kita hafal bagaimana mengajak si anak berbicara.
Dari sini, anak akan mulai memahami bahwa apapun yang ia katakan, ia akan didengar dan dipahami oleh orangtuanya. Lakukan dialog dua arah dan pertimbangkan pendapatnya;

4. Bekerjasama dengan guru di sekolah
Sampaikan kepada guru di sekolahnya. Jika masalah yang dihadapi oleh anak adalah topik pelajaran yang membosankan, maka variasikan pelajaran dengan hal yang ia suka. Misal, bantu ia memahami masalah seputar belajar dengan cara mengaitkan antara mata pelajaran dengan tokoh kartun idolanya,dsb;

5. Cari tahu minat belajar dan bakat anak
Tentu, sebagai Orangtua mau tahu di pelajaran apa yang paling di minati anak. Tapi bukan berarti kalau gak minat, di abaikan ya. Maksudnya, bagian pelajaran yang di minati haruslah lebih di maksimalkan. Supaya potensinya semakin berkembang.
Ada yang mau tambahkan lagi TIPS nya? Pastinya akan bermanfaat untuk Parents yang lainnya. Salam hangat 😀
0 komentar

Cara Agar Anak Mandiri | Sejak Dini‎

Bulan Juli bertepatan dengan tahun ajaran baru, sehingga anak-anak harus kembali ke sekolah. Bagi mereka yang mengalami kenaikan kelas, tentu hari pertama kembali belajar adalah saat yang paling menyenangkan karena bertemu dengan teman-teman setelah satu bulan lamanya libur.
Namun berbeda halnya dengan anak-anak di tingkat pertama, terutama TK dan SD. Minggu pertama ke sekolah seringkali menjadi drama. Banyak sekali anak yang rewel tidak mau ditinggal orang tuanya. Perasaan cemas berada di lingkungan baru, lama adaptasi dengan teman-teman, dan perasaan belum siap pergi keluar rumah sering membuat si Kecil merengek minta ditunggu.
Kejadian ini biasanya terjadi di minggu pertama, di mana orang tua masih diperbolehkan menunggu anak di sekolah supaya si Kecil merasa nyaman dan cepat beradaptasi. Namun bagaimana jika sudah hampir satu bulan lamanya anak-anak masih minta ditunggui, padahal Anda harus berangkat ke kantor.
Tenang, ada 5 tips cerdas yang bisa dilakukan untuk membiasakan si Kecil mandiri dan tidak ditunggui lagi:

  1. Mulai Secara Perlahan dan Konsisten
Beberapa orang tua nekat meninggalkan anak-anak di hari pertama sekolah, tanpa si Kecil mengetahui bahwa ibunya sudah tidak menungguinya di sekolah. Sebenarnya hal seperti ini lah yang menambah drama di sekolah, saat di hari pertama si Kecil masih belum terlalu percaya diri untuk belajar sendiri, namun orang tua justru meninggalkannya.
Supaya anak belajar mandiri, mulai perlahan saja. Jika diperlukan, susun rencana dan tahapan. Kapan anak harus ditunggu, dan kapan sudah bisa ditinggal.

Minggu pertama
Anda boleh menunggui anak dari dekat, sehingga si Kecil bisa melihat dengan jelas bahwa ada orang tuanya di dekatnya. Hal ini akan membuat si Kecil merasa lebih nyaman, sehingga di kelas ia akan lebih berani, dan menunjukkan bahwa ia mampu menyelesaikan pelajaran bahkan maju ke depan kelas.

Minggu kedua
Jika si Kecil sudah mulai berani, Anda bisa mencoba menungguinya dari jauh. Taman depan kelas atau ruang tunggu di depan kelas adalah lokasi yang bisa Anda gunakan, yang penting si Kecil masih bisa melihat Anda. Dengan berada di ruangan lain (walaupun masih dalam area yang sama) akan melatih anak untuk lebih mandiri saat di sekolah.

Minggu ketiga
Setelah dua minggu bersekolah, biasanya si Kecil sudah mulai menjalin pertemanan dengan beberapa anak. Memasuki minggu ketiga, Anda bisa mulai menambah jarak selama menunggu di sekolah. Setelah mengantar si Kecil sampai ke depan kelas, beritahu bahwa Bunda tidak pulang, namun akan menunggu di kantin atau ruang tunggu sekolah.
Di samping mencoba perlahan, Anda sebaiknya mulai memberikan pengertian kepada si Kecil bahwa mulai minggu depan Bunda hanya mengantar dan menjemput saja. Namun Anda juga harus konsisten melakukannya setiap hari, sehingga rasa berani dan percaya diri si Kecil mulai terbentuk untuk lebih mandiri.

Minggu keempat
Tiga minggu adalah waktu yang cukup untuk menunggui anak di sekolah, sehingga di minggu keempat Anda sudah bisa melepasnya sendiri di sekolah. Ikatan batin antara ibu dan anak cukup kuat, sehingga saat beranjak pulang setelah mengantar si Kecil, selalu berpikirlah positif supaya anak merasa tenang dan nyaman saat belajar di sekolah.

  1. Percayakan Kepada Guru
Saat orang tua sudah memutuskan untuk memasukkan anak-anak ke sekolah umum, ini artinya Anda sebaiknya mempercayakan si Kecil kepada guru dan pihak sekolah. Yakinlah bahwa para guru pasti akan siap membantu jika anak-anak mengalami kendala saat berada di sekolah.
Anda boleh memberikan nomor ponsel kepada guru kelasnya, sehingga jika sesuatu terjadi beliau bisa memberitahukan Anda secara langsung. Selain itu, guru juga bisa menginformasikan perkembangan si Kecil selama di sekolah. Hubungan baik orang tua dan guru sangat diperlukan demi kelancaran kegiatan belajar mengajar, lho.

  1. Beri Hadiah
Anak-anak suka hadiah, sehingga tidak ada salahnya Anda mulai memberlakukan sistem rewarduntuk anak. Sebelum mulai bersekolah, coba sampaikan kepada si Kecil bahwa Ayah dan Bunda akan memberikan hadiah jika ia berani untuk tidak ditunggui selama sekolah. Biasanya hadiah akan memberikan motivasi kepada si Kecil untuk lebih berani di sekolah.
Namun bagaimana jika strategi ini tidak mempan? Tenang, artinya Anda belum boleh terburu-buru. Selama minggu pertama dan kedua, Anda masih bisa menungguinya di sekolah sambil ia beradaptasi dengan lingkungan barunya. Namun di minggu ketiga mulai berikan pengertian bahwa ia harus berani di sekolah tanpa ditunggu.

  1. Siapkan Makanan Kesukaan
Selain hadiah, reward berupa makanan kesukaan juga menjadi favorit si Kecil. Sehari sebelum sekolah, coba tanyakan kepada anak besok ingin dibuatkan menu apa untuk sarapan, atau cemilan apa yang diminta setelah pulang sekolah. Selain itu, Anda bisa tanyakan ingin dibuatkan menu apa untuk bekal ke sekolah. Jika ingin membuat kejutan untuk si Kecil, beritahu bahwa Bunda akan membuatkan masakan favorit untuk besok, dan minta anak untuk menebak.
Dan coba buat perjanjian kecil, bahwa Anda akan membuatkan makanan favoritnya kalau si Kecil bersedia tidak ditunggui. Jika berhasil, artinya Anda sudah mendapatkan kunci awal untuk membuka rasa percaya dirinya!

  1. Bantu Ia Beradaptasi
Selama satu atau dua minggu pertama, saat masih bisa menungguinya selama di sekolah, Anda bisa mencoba untuk membantu anak supaya bisa membaur dengan lingkungan barunya. Bantu si Kecil untuk berkenalan dengan teman-teman barunya, supaya bisa mengalihkan pikirannya. Pelan-pelan, Anda bisa pamit untuk berpindah ke ruang tunggu di taman, supaya ia bisa bermain bebas bersama teman-temannya. Nah, jika si Kecil sudah mendapat teman baru biasanya akan lebih mudah ditinggal pulang.

Proses adaptasi si Kecil saat pertama bersekolah memang terbilang cukup lama, satu hal yang tidak kalah penting adalah menjaga komunikasi baik dengan anak. Saat menemput ke sekolah, minta ia menceritakan harinya di sekolah. Bagaimana teman-temannya, apa saja yang dipelajari di sekolah, dan bernyanyi bersama di perjalanan. Dengan membiasakan hal ini, si Kecil akan merasa lebih nyaman dan dekat dengan orang tua meskipun tidak ditunggui di sekolah. Juga, waktu belajar menjadi saat menyenangkan!
0 komentar

Tips Agar Anak Mau Sekolah Tanpa Harus Ditunggui

Bulan Juli bertepatan dengan tahun ajaran baru, sehingga anak-anak harus kembali ke sekolah. Bagi mereka yang mengalami kenaikan kelas, tentu hari pertama kembali belajar adalah saat yang paling menyenangkan karena bertemu dengan teman-teman setelah satu bulan lamanya libur.
Namun berbeda halnya dengan anak-anak di tingkat pertama, terutama TK dan SD. Minggu pertama ke sekolah seringkali menjadi drama. Banyak sekali anak yang rewel tidak mau ditinggal orang tuanya. Perasaan cemas berada di lingkungan baru, lama adaptasi dengan teman-teman, dan perasaan belum siap pergi keluar rumah sering membuat si Kecil merengek minta ditunggu.
Kejadian ini biasanya terjadi di minggu pertama, di mana orang tua masih diperbolehkan menunggu anak di sekolah supaya si Kecil merasa nyaman dan cepat beradaptasi. Namun bagaimana jika sudah hampir satu bulan lamanya anak-anak masih minta ditunggui, padahal Anda harus berangkat ke kantor.
Tenang, ada 5 tips cerdas yang bisa dilakukan untuk membiasakan si Kecil mandiri dan tidak ditunggui lagi:

  1. Mulai Secara Perlahan dan Konsisten
Beberapa orang tua nekat meninggalkan anak-anak di hari pertama sekolah, tanpa si Kecil mengetahui bahwa ibunya sudah tidak menungguinya di sekolah. Sebenarnya hal seperti ini lah yang menambah drama di sekolah, saat di hari pertama si Kecil masih belum terlalu percaya diri untuk belajar sendiri, namun orang tua justru meninggalkannya.
Supaya anak belajar mandiri, mulai perlahan saja. Jika diperlukan, susun rencana dan tahapan. Kapan anak harus ditunggu, dan kapan sudah bisa ditinggal.

Minggu pertama
Anda boleh menunggui anak dari dekat, sehingga si Kecil bisa melihat dengan jelas bahwa ada orang tuanya di dekatnya. Hal ini akan membuat si Kecil merasa lebih nyaman, sehingga di kelas ia akan lebih berani, dan menunjukkan bahwa ia mampu menyelesaikan pelajaran bahkan maju ke depan kelas.

Minggu kedua
Jika si Kecil sudah mulai berani, Anda bisa mencoba menungguinya dari jauh. Taman depan kelas atau ruang tunggu di depan kelas adalah lokasi yang bisa Anda gunakan, yang penting si Kecil masih bisa melihat Anda. Dengan berada di ruangan lain (walaupun masih dalam area yang sama) akan melatih anak untuk lebih mandiri saat di sekolah.

Minggu ketiga
Setelah dua minggu bersekolah, biasanya si Kecil sudah mulai menjalin pertemanan dengan beberapa anak. Memasuki minggu ketiga, Anda bisa mulai menambah jarak selama menunggu di sekolah. Setelah mengantar si Kecil sampai ke depan kelas, beritahu bahwa Bunda tidak pulang, namun akan menunggu di kantin atau ruang tunggu sekolah.
Di samping mencoba perlahan, Anda sebaiknya mulai memberikan pengertian kepada si Kecil bahwa mulai minggu depan Bunda hanya mengantar dan menjemput saja. Namun Anda juga harus konsisten melakukannya setiap hari, sehingga rasa berani dan percaya diri si Kecil mulai terbentuk untuk lebih mandiri.

Minggu keempat
Tiga minggu adalah waktu yang cukup untuk menunggui anak di sekolah, sehingga di minggu keempat Anda sudah bisa melepasnya sendiri di sekolah. Ikatan batin antara ibu dan anak cukup kuat, sehingga saat beranjak pulang setelah mengantar si Kecil, selalu berpikirlah positif supaya anak merasa tenang dan nyaman saat belajar di sekolah.

  1. Percayakan Kepada Guru
Saat orang tua sudah memutuskan untuk memasukkan anak-anak ke sekolah umum, ini artinya Anda sebaiknya mempercayakan si Kecil kepada guru dan pihak sekolah. Yakinlah bahwa para guru pasti akan siap membantu jika anak-anak mengalami kendala saat berada di sekolah.
Anda boleh memberikan nomor ponsel kepada guru kelasnya, sehingga jika sesuatu terjadi beliau bisa memberitahukan Anda secara langsung. Selain itu, guru juga bisa menginformasikan perkembangan si Kecil selama di sekolah. Hubungan baik orang tua dan guru sangat diperlukan demi kelancaran kegiatan belajar mengajar, lho.

  1. Beri Hadiah
Anak-anak suka hadiah, sehingga tidak ada salahnya Anda mulai memberlakukan sistem rewarduntuk anak. Sebelum mulai bersekolah, coba sampaikan kepada si Kecil bahwa Ayah dan Bunda akan memberikan hadiah jika ia berani untuk tidak ditunggui selama sekolah. Biasanya hadiah akan memberikan motivasi kepada si Kecil untuk lebih berani di sekolah.
Namun bagaimana jika strategi ini tidak mempan? Tenang, artinya Anda belum boleh terburu-buru. Selama minggu pertama dan kedua, Anda masih bisa menungguinya di sekolah sambil ia beradaptasi dengan lingkungan barunya. Namun di minggu ketiga mulai berikan pengertian bahwa ia harus berani di sekolah tanpa ditunggu.

  1. Siapkan Makanan Kesukaan
Selain hadiah, reward berupa makanan kesukaan juga menjadi favorit si Kecil. Sehari sebelum sekolah, coba tanyakan kepada anak besok ingin dibuatkan menu apa untuk sarapan, atau cemilan apa yang diminta setelah pulang sekolah. Selain itu, Anda bisa tanyakan ingin dibuatkan menu apa untuk bekal ke sekolah. Jika ingin membuat kejutan untuk si Kecil, beritahu bahwa Bunda akan membuatkan masakan favorit untuk besok, dan minta anak untuk menebak.
Dan coba buat perjanjian kecil, bahwa Anda akan membuatkan makanan favoritnya kalau si Kecil bersedia tidak ditunggui. Jika berhasil, artinya Anda sudah mendapatkan kunci awal untuk membuka rasa percaya dirinya!

  1. Bantu Ia Beradaptasi
Selama satu atau dua minggu pertama, saat masih bisa menungguinya selama di sekolah, Anda bisa mencoba untuk membantu anak supaya bisa membaur dengan lingkungan barunya. Bantu si Kecil untuk berkenalan dengan teman-teman barunya, supaya bisa mengalihkan pikirannya. Pelan-pelan, Anda bisa pamit untuk berpindah ke ruang tunggu di taman, supaya ia bisa bermain bebas bersama teman-temannya. Nah, jika si Kecil sudah mendapat teman baru biasanya akan lebih mudah ditinggal pulang.

Proses adaptasi si Kecil saat pertama bersekolah memang terbilang cukup lama, satu hal yang tidak kalah penting adalah menjaga komunikasi baik dengan anak. Saat menemput ke sekolah, minta ia menceritakan harinya di sekolah. Bagaimana teman-temannya, apa saja yang dipelajari di sekolah, dan bernyanyi bersama di perjalanan. Dengan membiasakan hal ini, si Kecil akan merasa lebih nyaman dan dekat dengan orang tua meskipun tidak ditunggui di sekolah. Juga, waktu belajar menjadi saat menyenangkan!
0 komentar

Trik Meninggalkan Anak Di Sekolah Tanpa Menangis

Bulan Juli bertepatan dengan tahun ajaran baru, sehingga anak-anak harus kembali ke sekolah. Bagi mereka yang mengalami kenaikan kelas, tentu hari pertama kembali belajar adalah saat yang paling menyenangkan karena bertemu dengan teman-teman setelah satu bulan lamanya libur.
Namun berbeda halnya dengan anak-anak di tingkat pertama, terutama TK dan SD. Minggu pertama ke sekolah seringkali menjadi drama. Banyak sekali anak yang rewel tidak mau ditinggal orang tuanya. Perasaan cemas berada di lingkungan baru, lama adaptasi dengan teman-teman, dan perasaan belum siap pergi keluar rumah sering membuat si Kecil merengek minta ditunggu.
Kejadian ini biasanya terjadi di minggu pertama, di mana orang tua masih diperbolehkan menunggu anak di sekolah supaya si Kecil merasa nyaman dan cepat beradaptasi. Namun bagaimana jika sudah hampir satu bulan lamanya anak-anak masih minta ditunggui, padahal Anda harus berangkat ke kantor.
Tenang, ada 5 tips cerdas yang bisa dilakukan untuk membiasakan si Kecil mandiri dan tidak ditunggui lagi:

  1. Mulai Secara Perlahan dan Konsisten
Beberapa orang tua nekat meninggalkan anak-anak di hari pertama sekolah, tanpa si Kecil mengetahui bahwa ibunya sudah tidak menungguinya di sekolah. Sebenarnya hal seperti ini lah yang menambah drama di sekolah, saat di hari pertama si Kecil masih belum terlalu percaya diri untuk belajar sendiri, namun orang tua justru meninggalkannya.
Supaya anak belajar mandiri, mulai perlahan saja. Jika diperlukan, susun rencana dan tahapan. Kapan anak harus ditunggu, dan kapan sudah bisa ditinggal.

Minggu pertama
Anda boleh menunggui anak dari dekat, sehingga si Kecil bisa melihat dengan jelas bahwa ada orang tuanya di dekatnya. Hal ini akan membuat si Kecil merasa lebih nyaman, sehingga di kelas ia akan lebih berani, dan menunjukkan bahwa ia mampu menyelesaikan pelajaran bahkan maju ke depan kelas.

Minggu kedua
Jika si Kecil sudah mulai berani, Anda bisa mencoba menungguinya dari jauh. Taman depan kelas atau ruang tunggu di depan kelas adalah lokasi yang bisa Anda gunakan, yang penting si Kecil masih bisa melihat Anda. Dengan berada di ruangan lain (walaupun masih dalam area yang sama) akan melatih anak untuk lebih mandiri saat di sekolah.

Minggu ketiga
Setelah dua minggu bersekolah, biasanya si Kecil sudah mulai menjalin pertemanan dengan beberapa anak. Memasuki minggu ketiga, Anda bisa mulai menambah jarak selama menunggu di sekolah. Setelah mengantar si Kecil sampai ke depan kelas, beritahu bahwa Bunda tidak pulang, namun akan menunggu di kantin atau ruang tunggu sekolah.
Di samping mencoba perlahan, Anda sebaiknya mulai memberikan pengertian kepada si Kecil bahwa mulai minggu depan Bunda hanya mengantar dan menjemput saja. Namun Anda juga harus konsisten melakukannya setiap hari, sehingga rasa berani dan percaya diri si Kecil mulai terbentuk untuk lebih mandiri.

Minggu keempat
Tiga minggu adalah waktu yang cukup untuk menunggui anak di sekolah, sehingga di minggu keempat Anda sudah bisa melepasnya sendiri di sekolah. Ikatan batin antara ibu dan anak cukup kuat, sehingga saat beranjak pulang setelah mengantar si Kecil, selalu berpikirlah positif supaya anak merasa tenang dan nyaman saat belajar di sekolah.

  1. Percayakan Kepada Guru
Saat orang tua sudah memutuskan untuk memasukkan anak-anak ke sekolah umum, ini artinya Anda sebaiknya mempercayakan si Kecil kepada guru dan pihak sekolah. Yakinlah bahwa para guru pasti akan siap membantu jika anak-anak mengalami kendala saat berada di sekolah.
Anda boleh memberikan nomor ponsel kepada guru kelasnya, sehingga jika sesuatu terjadi beliau bisa memberitahukan Anda secara langsung. Selain itu, guru juga bisa menginformasikan perkembangan si Kecil selama di sekolah. Hubungan baik orang tua dan guru sangat diperlukan demi kelancaran kegiatan belajar mengajar, lho.

  1. Beri Hadiah
Anak-anak suka hadiah, sehingga tidak ada salahnya Anda mulai memberlakukan sistem rewarduntuk anak. Sebelum mulai bersekolah, coba sampaikan kepada si Kecil bahwa Ayah dan Bunda akan memberikan hadiah jika ia berani untuk tidak ditunggui selama sekolah. Biasanya hadiah akan memberikan motivasi kepada si Kecil untuk lebih berani di sekolah.
Namun bagaimana jika strategi ini tidak mempan? Tenang, artinya Anda belum boleh terburu-buru. Selama minggu pertama dan kedua, Anda masih bisa menungguinya di sekolah sambil ia beradaptasi dengan lingkungan barunya. Namun di minggu ketiga mulai berikan pengertian bahwa ia harus berani di sekolah tanpa ditunggu.

  1. Siapkan Makanan Kesukaan
Selain hadiah, reward berupa makanan kesukaan juga menjadi favorit si Kecil. Sehari sebelum sekolah, coba tanyakan kepada anak besok ingin dibuatkan menu apa untuk sarapan, atau cemilan apa yang diminta setelah pulang sekolah. Selain itu, Anda bisa tanyakan ingin dibuatkan menu apa untuk bekal ke sekolah. Jika ingin membuat kejutan untuk si Kecil, beritahu bahwa Bunda akan membuatkan masakan favorit untuk besok, dan minta anak untuk menebak.
Dan coba buat perjanjian kecil, bahwa Anda akan membuatkan makanan favoritnya kalau si Kecil bersedia tidak ditunggui. Jika berhasil, artinya Anda sudah mendapatkan kunci awal untuk membuka rasa percaya dirinya!

  1. Bantu Ia Beradaptasi
Selama satu atau dua minggu pertama, saat masih bisa menungguinya selama di sekolah, Anda bisa mencoba untuk membantu anak supaya bisa membaur dengan lingkungan barunya. Bantu si Kecil untuk berkenalan dengan teman-teman barunya, supaya bisa mengalihkan pikirannya. Pelan-pelan, Anda bisa pamit untuk berpindah ke ruang tunggu di taman, supaya ia bisa bermain bebas bersama teman-temannya. Nah, jika si Kecil sudah mendapat teman baru biasanya akan lebih mudah ditinggal pulang.

Proses adaptasi si Kecil saat pertama bersekolah memang terbilang cukup lama, satu hal yang tidak kalah penting adalah menjaga komunikasi baik dengan anak. Saat menemput ke sekolah, minta ia menceritakan harinya di sekolah. Bagaimana teman-temannya, apa saja yang dipelajari di sekolah, dan bernyanyi bersama di perjalanan. Dengan membiasakan hal ini, si Kecil akan merasa lebih nyaman dan dekat dengan orang tua meskipun tidak ditunggui di sekolah. Juga, waktu belajar menjadi saat menyenangkan!
0 komentar

Mengatasi Anak Yang Minta Ditunggu Saat Sekolah

Bulan Juli bertepatan dengan tahun ajaran baru, sehingga anak-anak harus kembali ke sekolah. Bagi mereka yang mengalami kenaikan kelas, tentu hari pertama kembali belajar adalah saat yang paling menyenangkan karena bertemu dengan teman-teman setelah satu bulan lamanya libur.
Namun berbeda halnya dengan anak-anak di tingkat pertama, terutama TK dan SD. Minggu pertama ke sekolah seringkali menjadi drama. Banyak sekali anak yang rewel tidak mau ditinggal orang tuanya. Perasaan cemas berada di lingkungan baru, lama adaptasi dengan teman-teman, dan perasaan belum siap pergi keluar rumah sering membuat si Kecil merengek minta ditunggu.
Kejadian ini biasanya terjadi di minggu pertama, di mana orang tua masih diperbolehkan menunggu anak di sekolah supaya si Kecil merasa nyaman dan cepat beradaptasi. Namun bagaimana jika sudah hampir satu bulan lamanya anak-anak masih minta ditunggui, padahal Anda harus berangkat ke kantor.
Tenang, ada 5 tips cerdas yang bisa dilakukan untuk membiasakan si Kecil mandiri dan tidak ditunggui lagi:

  1. Mulai Secara Perlahan dan Konsisten
Beberapa orang tua nekat meninggalkan anak-anak di hari pertama sekolah, tanpa si Kecil mengetahui bahwa ibunya sudah tidak menungguinya di sekolah. Sebenarnya hal seperti ini lah yang menambah drama di sekolah, saat di hari pertama si Kecil masih belum terlalu percaya diri untuk belajar sendiri, namun orang tua justru meninggalkannya.
Supaya anak belajar mandiri, mulai perlahan saja. Jika diperlukan, susun rencana dan tahapan. Kapan anak harus ditunggu, dan kapan sudah bisa ditinggal.

Minggu pertama
Anda boleh menunggui anak dari dekat, sehingga si Kecil bisa melihat dengan jelas bahwa ada orang tuanya di dekatnya. Hal ini akan membuat si Kecil merasa lebih nyaman, sehingga di kelas ia akan lebih berani, dan menunjukkan bahwa ia mampu menyelesaikan pelajaran bahkan maju ke depan kelas.

Minggu kedua
Jika si Kecil sudah mulai berani, Anda bisa mencoba menungguinya dari jauh. Taman depan kelas atau ruang tunggu di depan kelas adalah lokasi yang bisa Anda gunakan, yang penting si Kecil masih bisa melihat Anda. Dengan berada di ruangan lain (walaupun masih dalam area yang sama) akan melatih anak untuk lebih mandiri saat di sekolah.

Minggu ketiga
Setelah dua minggu bersekolah, biasanya si Kecil sudah mulai menjalin pertemanan dengan beberapa anak. Memasuki minggu ketiga, Anda bisa mulai menambah jarak selama menunggu di sekolah. Setelah mengantar si Kecil sampai ke depan kelas, beritahu bahwa Bunda tidak pulang, namun akan menunggu di kantin atau ruang tunggu sekolah.
Di samping mencoba perlahan, Anda sebaiknya mulai memberikan pengertian kepada si Kecil bahwa mulai minggu depan Bunda hanya mengantar dan menjemput saja. Namun Anda juga harus konsisten melakukannya setiap hari, sehingga rasa berani dan percaya diri si Kecil mulai terbentuk untuk lebih mandiri.

Minggu keempat
Tiga minggu adalah waktu yang cukup untuk menunggui anak di sekolah, sehingga di minggu keempat Anda sudah bisa melepasnya sendiri di sekolah. Ikatan batin antara ibu dan anak cukup kuat, sehingga saat beranjak pulang setelah mengantar si Kecil, selalu berpikirlah positif supaya anak merasa tenang dan nyaman saat belajar di sekolah.

  1. Percayakan Kepada Guru
Saat orang tua sudah memutuskan untuk memasukkan anak-anak ke sekolah umum, ini artinya Anda sebaiknya mempercayakan si Kecil kepada guru dan pihak sekolah. Yakinlah bahwa para guru pasti akan siap membantu jika anak-anak mengalami kendala saat berada di sekolah.
Anda boleh memberikan nomor ponsel kepada guru kelasnya, sehingga jika sesuatu terjadi beliau bisa memberitahukan Anda secara langsung. Selain itu, guru juga bisa menginformasikan perkembangan si Kecil selama di sekolah. Hubungan baik orang tua dan guru sangat diperlukan demi kelancaran kegiatan belajar mengajar, lho.

  1. Beri Hadiah
Anak-anak suka hadiah, sehingga tidak ada salahnya Anda mulai memberlakukan sistem rewarduntuk anak. Sebelum mulai bersekolah, coba sampaikan kepada si Kecil bahwa Ayah dan Bunda akan memberikan hadiah jika ia berani untuk tidak ditunggui selama sekolah. Biasanya hadiah akan memberikan motivasi kepada si Kecil untuk lebih berani di sekolah.
Namun bagaimana jika strategi ini tidak mempan? Tenang, artinya Anda belum boleh terburu-buru. Selama minggu pertama dan kedua, Anda masih bisa menungguinya di sekolah sambil ia beradaptasi dengan lingkungan barunya. Namun di minggu ketiga mulai berikan pengertian bahwa ia harus berani di sekolah tanpa ditunggu.

  1. Siapkan Makanan Kesukaan
Selain hadiah, reward berupa makanan kesukaan juga menjadi favorit si Kecil. Sehari sebelum sekolah, coba tanyakan kepada anak besok ingin dibuatkan menu apa untuk sarapan, atau cemilan apa yang diminta setelah pulang sekolah. Selain itu, Anda bisa tanyakan ingin dibuatkan menu apa untuk bekal ke sekolah. Jika ingin membuat kejutan untuk si Kecil, beritahu bahwa Bunda akan membuatkan masakan favorit untuk besok, dan minta anak untuk menebak.
Dan coba buat perjanjian kecil, bahwa Anda akan membuatkan makanan favoritnya kalau si Kecil bersedia tidak ditunggui. Jika berhasil, artinya Anda sudah mendapatkan kunci awal untuk membuka rasa percaya dirinya!

  1. Bantu Ia Beradaptasi
Selama satu atau dua minggu pertama, saat masih bisa menungguinya selama di sekolah, Anda bisa mencoba untuk membantu anak supaya bisa membaur dengan lingkungan barunya. Bantu si Kecil untuk berkenalan dengan teman-teman barunya, supaya bisa mengalihkan pikirannya. Pelan-pelan, Anda bisa pamit untuk berpindah ke ruang tunggu di taman, supaya ia bisa bermain bebas bersama teman-temannya. Nah, jika si Kecil sudah mendapat teman baru biasanya akan lebih mudah ditinggal pulang.

Proses adaptasi si Kecil saat pertama bersekolah memang terbilang cukup lama, satu hal yang tidak kalah penting adalah menjaga komunikasi baik dengan anak. Saat menemput ke sekolah, minta ia menceritakan harinya di sekolah. Bagaimana teman-temannya, apa saja yang dipelajari di sekolah, dan bernyanyi bersama di perjalanan. Dengan membiasakan hal ini, si Kecil akan merasa lebih nyaman dan dekat dengan orang tua meskipun tidak ditunggui di sekolah. Juga, waktu belajar menjadi saat menyenangkan!
0 komentar

Bagaimana Mengajari Anak Untuk Berani Sekolah Tanpa Didampingi ...

Bulan Juli bertepatan dengan tahun ajaran baru, sehingga anak-anak harus kembali ke sekolah. Bagi mereka yang mengalami kenaikan kelas, tentu hari pertama kembali belajar adalah saat yang paling menyenangkan karena bertemu dengan teman-teman setelah satu bulan lamanya libur.
Namun berbeda halnya dengan anak-anak di tingkat pertama, terutama TK dan SD. Minggu pertama ke sekolah seringkali menjadi drama. Banyak sekali anak yang rewel tidak mau ditinggal orang tuanya. Perasaan cemas berada di lingkungan baru, lama adaptasi dengan teman-teman, dan perasaan belum siap pergi keluar rumah sering membuat si Kecil merengek minta ditunggu.
Kejadian ini biasanya terjadi di minggu pertama, di mana orang tua masih diperbolehkan menunggu anak di sekolah supaya si Kecil merasa nyaman dan cepat beradaptasi. Namun bagaimana jika sudah hampir satu bulan lamanya anak-anak masih minta ditunggui, padahal Anda harus berangkat ke kantor.
Tenang, ada 5 tips cerdas yang bisa dilakukan untuk membiasakan si Kecil mandiri dan tidak ditunggui lagi:

  1. Mulai Secara Perlahan dan Konsisten
Beberapa orang tua nekat meninggalkan anak-anak di hari pertama sekolah, tanpa si Kecil mengetahui bahwa ibunya sudah tidak menungguinya di sekolah. Sebenarnya hal seperti ini lah yang menambah drama di sekolah, saat di hari pertama si Kecil masih belum terlalu percaya diri untuk belajar sendiri, namun orang tua justru meninggalkannya.
Supaya anak belajar mandiri, mulai perlahan saja. Jika diperlukan, susun rencana dan tahapan. Kapan anak harus ditunggu, dan kapan sudah bisa ditinggal.

Minggu pertama
Anda boleh menunggui anak dari dekat, sehingga si Kecil bisa melihat dengan jelas bahwa ada orang tuanya di dekatnya. Hal ini akan membuat si Kecil merasa lebih nyaman, sehingga di kelas ia akan lebih berani, dan menunjukkan bahwa ia mampu menyelesaikan pelajaran bahkan maju ke depan kelas.

Minggu kedua
Jika si Kecil sudah mulai berani, Anda bisa mencoba menungguinya dari jauh. Taman depan kelas atau ruang tunggu di depan kelas adalah lokasi yang bisa Anda gunakan, yang penting si Kecil masih bisa melihat Anda. Dengan berada di ruangan lain (walaupun masih dalam area yang sama) akan melatih anak untuk lebih mandiri saat di sekolah.

Minggu ketiga
Setelah dua minggu bersekolah, biasanya si Kecil sudah mulai menjalin pertemanan dengan beberapa anak. Memasuki minggu ketiga, Anda bisa mulai menambah jarak selama menunggu di sekolah. Setelah mengantar si Kecil sampai ke depan kelas, beritahu bahwa Bunda tidak pulang, namun akan menunggu di kantin atau ruang tunggu sekolah.
Di samping mencoba perlahan, Anda sebaiknya mulai memberikan pengertian kepada si Kecil bahwa mulai minggu depan Bunda hanya mengantar dan menjemput saja. Namun Anda juga harus konsisten melakukannya setiap hari, sehingga rasa berani dan percaya diri si Kecil mulai terbentuk untuk lebih mandiri.

Minggu keempat
Tiga minggu adalah waktu yang cukup untuk menunggui anak di sekolah, sehingga di minggu keempat Anda sudah bisa melepasnya sendiri di sekolah. Ikatan batin antara ibu dan anak cukup kuat, sehingga saat beranjak pulang setelah mengantar si Kecil, selalu berpikirlah positif supaya anak merasa tenang dan nyaman saat belajar di sekolah.

  1. Percayakan Kepada Guru
Saat orang tua sudah memutuskan untuk memasukkan anak-anak ke sekolah umum, ini artinya Anda sebaiknya mempercayakan si Kecil kepada guru dan pihak sekolah. Yakinlah bahwa para guru pasti akan siap membantu jika anak-anak mengalami kendala saat berada di sekolah.
Anda boleh memberikan nomor ponsel kepada guru kelasnya, sehingga jika sesuatu terjadi beliau bisa memberitahukan Anda secara langsung. Selain itu, guru juga bisa menginformasikan perkembangan si Kecil selama di sekolah. Hubungan baik orang tua dan guru sangat diperlukan demi kelancaran kegiatan belajar mengajar, lho.

  1. Beri Hadiah
Anak-anak suka hadiah, sehingga tidak ada salahnya Anda mulai memberlakukan sistem rewarduntuk anak. Sebelum mulai bersekolah, coba sampaikan kepada si Kecil bahwa Ayah dan Bunda akan memberikan hadiah jika ia berani untuk tidak ditunggui selama sekolah. Biasanya hadiah akan memberikan motivasi kepada si Kecil untuk lebih berani di sekolah.
Namun bagaimana jika strategi ini tidak mempan? Tenang, artinya Anda belum boleh terburu-buru. Selama minggu pertama dan kedua, Anda masih bisa menungguinya di sekolah sambil ia beradaptasi dengan lingkungan barunya. Namun di minggu ketiga mulai berikan pengertian bahwa ia harus berani di sekolah tanpa ditunggu.

  1. Siapkan Makanan Kesukaan
Selain hadiah, reward berupa makanan kesukaan juga menjadi favorit si Kecil. Sehari sebelum sekolah, coba tanyakan kepada anak besok ingin dibuatkan menu apa untuk sarapan, atau cemilan apa yang diminta setelah pulang sekolah. Selain itu, Anda bisa tanyakan ingin dibuatkan menu apa untuk bekal ke sekolah. Jika ingin membuat kejutan untuk si Kecil, beritahu bahwa Bunda akan membuatkan masakan favorit untuk besok, dan minta anak untuk menebak.
Dan coba buat perjanjian kecil, bahwa Anda akan membuatkan makanan favoritnya kalau si Kecil bersedia tidak ditunggui. Jika berhasil, artinya Anda sudah mendapatkan kunci awal untuk membuka rasa percaya dirinya!

  1. Bantu Ia Beradaptasi
Selama satu atau dua minggu pertama, saat masih bisa menungguinya selama di sekolah, Anda bisa mencoba untuk membantu anak supaya bisa membaur dengan lingkungan barunya. Bantu si Kecil untuk berkenalan dengan teman-teman barunya, supaya bisa mengalihkan pikirannya. Pelan-pelan, Anda bisa pamit untuk berpindah ke ruang tunggu di taman, supaya ia bisa bermain bebas bersama teman-temannya. Nah, jika si Kecil sudah mendapat teman baru biasanya akan lebih mudah ditinggal pulang.

Proses adaptasi si Kecil saat pertama bersekolah memang terbilang cukup lama, satu hal yang tidak kalah penting adalah menjaga komunikasi baik dengan anak. Saat menemput ke sekolah, minta ia menceritakan harinya di sekolah. Bagaimana teman-temannya, apa saja yang dipelajari di sekolah, dan bernyanyi bersama di perjalanan. Dengan membiasakan hal ini, si Kecil akan merasa lebih nyaman dan dekat dengan orang tua meskipun tidak ditunggui di sekolah. Juga, waktu belajar menjadi saat menyenangkan!
0 komentar

Trik Atasi Anak Yang Minta Ditunggu Di Sekolah

Bulan Juli bertepatan dengan tahun ajaran baru, sehingga anak-anak harus kembali ke sekolah. Bagi mereka yang mengalami kenaikan kelas, tentu hari pertama kembali belajar adalah saat yang paling menyenangkan karena bertemu dengan teman-teman setelah satu bulan lamanya libur.
Namun berbeda halnya dengan anak-anak di tingkat pertama, terutama TK dan SD. Minggu pertama ke sekolah seringkali menjadi drama. Banyak sekali anak yang rewel tidak mau ditinggal orang tuanya. Perasaan cemas berada di lingkungan baru, lama adaptasi dengan teman-teman, dan perasaan belum siap pergi keluar rumah sering membuat si Kecil merengek minta ditunggu.
Kejadian ini biasanya terjadi di minggu pertama, di mana orang tua masih diperbolehkan menunggu anak di sekolah supaya si Kecil merasa nyaman dan cepat beradaptasi. Namun bagaimana jika sudah hampir satu bulan lamanya anak-anak masih minta ditunggui, padahal Anda harus berangkat ke kantor.
Tenang, ada 5 tips cerdas yang bisa dilakukan untuk membiasakan si Kecil mandiri dan tidak ditunggui lagi:

  1. Mulai Secara Perlahan dan Konsisten
Beberapa orang tua nekat meninggalkan anak-anak di hari pertama sekolah, tanpa si Kecil mengetahui bahwa ibunya sudah tidak menungguinya di sekolah. Sebenarnya hal seperti ini lah yang menambah drama di sekolah, saat di hari pertama si Kecil masih belum terlalu percaya diri untuk belajar sendiri, namun orang tua justru meninggalkannya.
Supaya anak belajar mandiri, mulai perlahan saja. Jika diperlukan, susun rencana dan tahapan. Kapan anak harus ditunggu, dan kapan sudah bisa ditinggal.

Minggu pertama
Anda boleh menunggui anak dari dekat, sehingga si Kecil bisa melihat dengan jelas bahwa ada orang tuanya di dekatnya. Hal ini akan membuat si Kecil merasa lebih nyaman, sehingga di kelas ia akan lebih berani, dan menunjukkan bahwa ia mampu menyelesaikan pelajaran bahkan maju ke depan kelas.

Minggu kedua
Jika si Kecil sudah mulai berani, Anda bisa mencoba menungguinya dari jauh. Taman depan kelas atau ruang tunggu di depan kelas adalah lokasi yang bisa Anda gunakan, yang penting si Kecil masih bisa melihat Anda. Dengan berada di ruangan lain (walaupun masih dalam area yang sama) akan melatih anak untuk lebih mandiri saat di sekolah.

Minggu ketiga
Setelah dua minggu bersekolah, biasanya si Kecil sudah mulai menjalin pertemanan dengan beberapa anak. Memasuki minggu ketiga, Anda bisa mulai menambah jarak selama menunggu di sekolah. Setelah mengantar si Kecil sampai ke depan kelas, beritahu bahwa Bunda tidak pulang, namun akan menunggu di kantin atau ruang tunggu sekolah.
Di samping mencoba perlahan, Anda sebaiknya mulai memberikan pengertian kepada si Kecil bahwa mulai minggu depan Bunda hanya mengantar dan menjemput saja. Namun Anda juga harus konsisten melakukannya setiap hari, sehingga rasa berani dan percaya diri si Kecil mulai terbentuk untuk lebih mandiri.

Minggu keempat
Tiga minggu adalah waktu yang cukup untuk menunggui anak di sekolah, sehingga di minggu keempat Anda sudah bisa melepasnya sendiri di sekolah. Ikatan batin antara ibu dan anak cukup kuat, sehingga saat beranjak pulang setelah mengantar si Kecil, selalu berpikirlah positif supaya anak merasa tenang dan nyaman saat belajar di sekolah.

  1. Percayakan Kepada Guru
Saat orang tua sudah memutuskan untuk memasukkan anak-anak ke sekolah umum, ini artinya Anda sebaiknya mempercayakan si Kecil kepada guru dan pihak sekolah. Yakinlah bahwa para guru pasti akan siap membantu jika anak-anak mengalami kendala saat berada di sekolah.
Anda boleh memberikan nomor ponsel kepada guru kelasnya, sehingga jika sesuatu terjadi beliau bisa memberitahukan Anda secara langsung. Selain itu, guru juga bisa menginformasikan perkembangan si Kecil selama di sekolah. Hubungan baik orang tua dan guru sangat diperlukan demi kelancaran kegiatan belajar mengajar, lho.

  1. Beri Hadiah
Anak-anak suka hadiah, sehingga tidak ada salahnya Anda mulai memberlakukan sistem rewarduntuk anak. Sebelum mulai bersekolah, coba sampaikan kepada si Kecil bahwa Ayah dan Bunda akan memberikan hadiah jika ia berani untuk tidak ditunggui selama sekolah. Biasanya hadiah akan memberikan motivasi kepada si Kecil untuk lebih berani di sekolah.
Namun bagaimana jika strategi ini tidak mempan? Tenang, artinya Anda belum boleh terburu-buru. Selama minggu pertama dan kedua, Anda masih bisa menungguinya di sekolah sambil ia beradaptasi dengan lingkungan barunya. Namun di minggu ketiga mulai berikan pengertian bahwa ia harus berani di sekolah tanpa ditunggu.

  1. Siapkan Makanan Kesukaan
Selain hadiah, reward berupa makanan kesukaan juga menjadi favorit si Kecil. Sehari sebelum sekolah, coba tanyakan kepada anak besok ingin dibuatkan menu apa untuk sarapan, atau cemilan apa yang diminta setelah pulang sekolah. Selain itu, Anda bisa tanyakan ingin dibuatkan menu apa untuk bekal ke sekolah. Jika ingin membuat kejutan untuk si Kecil, beritahu bahwa Bunda akan membuatkan masakan favorit untuk besok, dan minta anak untuk menebak.
Dan coba buat perjanjian kecil, bahwa Anda akan membuatkan makanan favoritnya kalau si Kecil bersedia tidak ditunggui. Jika berhasil, artinya Anda sudah mendapatkan kunci awal untuk membuka rasa percaya dirinya!

  1. Bantu Ia Beradaptasi
Selama satu atau dua minggu pertama, saat masih bisa menungguinya selama di sekolah, Anda bisa mencoba untuk membantu anak supaya bisa membaur dengan lingkungan barunya. Bantu si Kecil untuk berkenalan dengan teman-teman barunya, supaya bisa mengalihkan pikirannya. Pelan-pelan, Anda bisa pamit untuk berpindah ke ruang tunggu di taman, supaya ia bisa bermain bebas bersama teman-temannya. Nah, jika si Kecil sudah mendapat teman baru biasanya akan lebih mudah ditinggal pulang.

Proses adaptasi si Kecil saat pertama bersekolah memang terbilang cukup lama, satu hal yang tidak kalah penting adalah menjaga komunikasi baik dengan anak. Saat menemput ke sekolah, minta ia menceritakan harinya di sekolah. Bagaimana teman-temannya, apa saja yang dipelajari di sekolah, dan bernyanyi bersama di perjalanan. Dengan membiasakan hal ini, si Kecil akan merasa lebih nyaman dan dekat dengan orang tua meskipun tidak ditunggui di sekolah. Juga, waktu belajar menjadi saat menyenangkan!
0 komentar

Cara Membuat Anak Berani Sekolah Tanpa Didampingi Orangtua .





Beberapa anak saat pertama masuk sekolah biasanya tidak berani ditinggal sendiri. Jika ini terjadi hanya pada minggu pertama sih masih wajar.
Tapi, bagaimana jika sudah lebih dari satu minggu bahkan satu bulan anak masih tidak berani ditinggal sendiri oleh orangtuanya?
Maunya ditunggui terus . .
Bahkan, ada anak yang begitu khawatir jika ditinggal sang ibu hingga tiap jam ia menengok ke jendela.
Untuk mengecek apakah ibunya masih menunggu di luar ataukah sudah lenyap.
Apakah orangtua bijak Indonesia sedang mengalami hal ini?
Jangan sedih atau bingung karena saat ini kita akan membahas bagaimana cara membuat anak berani sekolah sendiri.
Tanpa perlu ditunggui orangtua, tanpa perlu melihat tangisan dan rengekan anak dan Anda pun tidak perlu meninggalkan anak secara sembunyi-sembunyi saat ingin membuatnya berani sekolah sendiri.

Penyebab anak tidak berani ditinggal sendiri saat sekolah adalah. .

Karena selama ini orangtua jarang memberikan kesempatan untuk anak berbuat secara mandiri.
Setiap anak mencoba melakukan sesuatu, bukan pujian yang ia dapatkan.
Melainkan, larangan, kemarahan dan kritikan dari orangtuanya.
Hal inilah yang memicu anak tumbuh menjadi pribadi yang kurang percaya diri.
Anak-anak tidak mengenal potensinya karena orangtua menganggap mereka masih kecil dan butuh bantuan.
Nah, kebiasaan merespon anak dengan larangan, kemarahan dan kritikan inilah yang membuat anak jadi penakut.
Ia tak benar-benar percaya diri untuk masuk sekolah di hari pertama.
Ia tak benar-benar berani untuk memandang guru dan teman-teman sebayanya yang baru.

Cara Membuat Anak Berani Sekolah Sendiri

Membuat anak berani sekolah sendiri tanpa pendampingan orangtua merupakan serangkaian persiapan awal anak masuk sekolah.
Di minggu pertama, Anda boleh menunggui anak di sekolah.
Usahakan jaraknya cukup dekat hingga anak mampu melihat Anda dengan jelas.
Tujuannya agar anak merasa aman dan nyaman di sekolah.
Anak pun akan lebih percaya diri karena ada seseorang yang peduli dan mendukungnya.
Setelah melewati minggu pertama, biasanya orangtua mengendap-endap pergi meninggalkan anak.
Kita menganggap cara ini ampuh membuat anak berani sekolah sendiri.
Yang terjadi justru sebaliknya.
Anak-anak akan semakin takut ditinggal sendiri dan menjadi tidak percaya kepada Anda.
Bukannya semangat sekolah, ia malah menjadi malas karena teringat pengalaman kemarin saat Anda meninggalkannya diam-diam.
Hingga timbul kekhawatiran berlebihan dan membuat anak mengikat Anda lebih kencang dari biasanya.
Seperti contoh kasus di atas, setiap jam anak akan menengok ke jendela untuk mengecek keberadaan orangtuanya.
Dampak negatifnya, anak Anda menjadi tidak fokus mengikuti proses pembelajaran di kelas.
Jadi, solusi terkait cara membuat anak berani sekolah sendiri adalah jangan langsung menghilang.
Tapi, menghilang secara bertahap dengan tetap memberikan penjelasan kepada anak.
Pada minggu kedua, Anda bisa tetap menunggui anak dengan jarak yang agak jauh tapi masih terlihat oleh anak Anda.
Selanjutnya, pada minggu ketiga Anda bisa menunggu anak di area sekolah tapi usahakan untuk tidak terlihat olehnya.
Nah, pada tahap ini Anda wajib memberikan pengertian kepada anak.
Kakak, mama masih nungguin kamu di sekolah kok. Mama ada di kantin dekat lapangan. Hal ini mama lakukan supaya kakak bisa fokus belajar dan berani sekolah sendiri tanpa mama.
Selanjutnya, tanyakan kepada anak bagaimana perasaannya tentang perlakuan Anda ini.
Apakah ia merasa terganggu ataukah biasa saja dan tak ada kendala?
Apabila anak merasa tak nyaman hingga menangis dan meminta Anda untuk kembali menungguinya pada jarak yang dekat, hindari untuk tergoda.
Ya sudah besok mama tunggui lagi di depan kelas. Satu hari saja ya.
Orangtua bijak Indonesia . . 
hasil yang memuaskan berawal dari proses yang konsisten.
Jadi, apabila anak merengek dan meminta Anda kembali, yakinkan anak, bahwa ia pemberani dan percaya diri.
Jika sudah berhasil, maka pada minggu keempat Anda bisa melepas anak untuk berangkat sekolah sendiri tanpa menungguinya lagi.
Lepaslah anak Anda dengan pikiran positif bahwa pihak sekolah, khususnya guru akan bertanggung jawab penuh terhadap anak Anda selama ia berada di sekolah.
Pikiran positif membantu menenangkan hati dan pikiran Anda selama anak mengikuti proses pembelajaran di sekolah.
Nah, berikut ada 3 hal yang perlu Anda perhatikan terkait cara membuat anak berani sekolah sendiri.
1. Membuat Target Waktu
Sebagai orangtua, tentu Anda mengenal kepribadian anak lebih baik daripada orang lain.
Jadi, perhatikan kepribadian anak Anda. Apakah ia cukup percaya diri atau sering minder?
Apakah ia anak pemberani dan mudah beradaptasi atau cenderung takut dengan orang-orang baru?
Berdasarkan kepribadian anak ini, lanjutkan dengan membuat target waktu.
Jika anak memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan mudah beradaptasi, maka waktu 2 atau 3 minggu adalah pilihan terbaik.
Namun, apabila anak Anda tergolong penakut saat bertemu dengan lingkungan baru, maka waktu 4 minggu adalah pilihan ideal.
2. Memberikan Kepercayaan pada Anak
Banyak orangtua yang sulit memberikan kepercayaan kepada anak.
Kita menganggap anak masih kecil dan membutuhkan bantuan.
Sehingga, muncul ketakutan-ketakutan tak beralasan yang mendorong kita selalu membantu anak meskipun untuk hal sepele.
Misalnya, mengikat tali sepatu saat berangkat sekolah. Awalnya, kita sudah melatih anak untuk mengikat tali sepatu sendiri.
Tapi, pagi itu ia terlihat kesulitan hingga membutuhkan waktu lebih dari 15 menit untuk mengikat tali sepatu.
Karena jam sudah menunjukkan pukul 06.50 dan takut terlambat masuk sekolah, Anda menjadi tidak sabar.
Kemudian, Anda mengulurkan tangan untuk memberikan bantuan.
Orangtua bijak Indonesia, buatlah komitmen dalam memberikan kepercayaan pada anak.
Katakan pada anak . .
Bapak percaya kamu bisa
atau. .
Ibu percaya kamu bisa menyelesaikan masalah ini
Kepercayaan yang Anda berikan pada anak tidak akan berakhir sia-sia.
Anak-anak akan sadar dengan potensi yang dimiliki, sehingga kepercayaan dirinya akan tumbuh dengan sehat.
3. Memberikan Kepercayaan pada Pihak Sekolah
Yang perlu Anda perhatikan terkait cara membuat anak berani sekolah sendiri adalah percaya pada pihak sekolah.
Bahwa sekolah akan bertanggung jawab penuh terhadap anak kita yang ada di sekolah.
Dan, guru-guru akan memperlakukan anak Anda dengan baik.
Tanpa rasa percaya ini, Anda akan selalu merasa gusar, takut dan was-was terhadap keadaan anak di sekolah.
Hal ini justru akan mengganggu aktivitas Anda karena membuat Anda tidak fokus.
Jadi, kepercayaan Anda pada sekolah juga sangat mempengaruhi keberanian anak berangkat sekolah sendiri.

Setelah anak konsisten berani ditinggal sendiri, Anda tetap harus mengontrol dan mengawasinya di sekolah.
Meskipun ia terlihat baik-baik saja dan tidak menimbulkan masalah, orangtua tetap harus memberikan motivasi agar anak semangat sekolah.
Karena motivasi orangtua layaknya kayu bakar yang membuat api unggun lebih dahsyat membara.
 
;