Kamis, 18 Juli 2019 0 komentar

Mengatasi Anak Yang Minta Ditunggu Saat Sekolah

Bulan Juli bertepatan dengan tahun ajaran baru, sehingga anak-anak harus kembali ke sekolah. Bagi mereka yang mengalami kenaikan kelas, tentu hari pertama kembali belajar adalah saat yang paling menyenangkan karena bertemu dengan teman-teman setelah satu bulan lamanya libur.
Namun berbeda halnya dengan anak-anak di tingkat pertama, terutama TK dan SD. Minggu pertama ke sekolah seringkali menjadi drama. Banyak sekali anak yang rewel tidak mau ditinggal orang tuanya. Perasaan cemas berada di lingkungan baru, lama adaptasi dengan teman-teman, dan perasaan belum siap pergi keluar rumah sering membuat si Kecil merengek minta ditunggu.
Kejadian ini biasanya terjadi di minggu pertama, di mana orang tua masih diperbolehkan menunggu anak di sekolah supaya si Kecil merasa nyaman dan cepat beradaptasi. Namun bagaimana jika sudah hampir satu bulan lamanya anak-anak masih minta ditunggui, padahal Anda harus berangkat ke kantor.
Tenang, ada 5 tips cerdas yang bisa dilakukan untuk membiasakan si Kecil mandiri dan tidak ditunggui lagi:

  1. Mulai Secara Perlahan dan Konsisten
Beberapa orang tua nekat meninggalkan anak-anak di hari pertama sekolah, tanpa si Kecil mengetahui bahwa ibunya sudah tidak menungguinya di sekolah. Sebenarnya hal seperti ini lah yang menambah drama di sekolah, saat di hari pertama si Kecil masih belum terlalu percaya diri untuk belajar sendiri, namun orang tua justru meninggalkannya.
Supaya anak belajar mandiri, mulai perlahan saja. Jika diperlukan, susun rencana dan tahapan. Kapan anak harus ditunggu, dan kapan sudah bisa ditinggal.

Minggu pertama
Anda boleh menunggui anak dari dekat, sehingga si Kecil bisa melihat dengan jelas bahwa ada orang tuanya di dekatnya. Hal ini akan membuat si Kecil merasa lebih nyaman, sehingga di kelas ia akan lebih berani, dan menunjukkan bahwa ia mampu menyelesaikan pelajaran bahkan maju ke depan kelas.

Minggu kedua
Jika si Kecil sudah mulai berani, Anda bisa mencoba menungguinya dari jauh. Taman depan kelas atau ruang tunggu di depan kelas adalah lokasi yang bisa Anda gunakan, yang penting si Kecil masih bisa melihat Anda. Dengan berada di ruangan lain (walaupun masih dalam area yang sama) akan melatih anak untuk lebih mandiri saat di sekolah.

Minggu ketiga
Setelah dua minggu bersekolah, biasanya si Kecil sudah mulai menjalin pertemanan dengan beberapa anak. Memasuki minggu ketiga, Anda bisa mulai menambah jarak selama menunggu di sekolah. Setelah mengantar si Kecil sampai ke depan kelas, beritahu bahwa Bunda tidak pulang, namun akan menunggu di kantin atau ruang tunggu sekolah.
Di samping mencoba perlahan, Anda sebaiknya mulai memberikan pengertian kepada si Kecil bahwa mulai minggu depan Bunda hanya mengantar dan menjemput saja. Namun Anda juga harus konsisten melakukannya setiap hari, sehingga rasa berani dan percaya diri si Kecil mulai terbentuk untuk lebih mandiri.

Minggu keempat
Tiga minggu adalah waktu yang cukup untuk menunggui anak di sekolah, sehingga di minggu keempat Anda sudah bisa melepasnya sendiri di sekolah. Ikatan batin antara ibu dan anak cukup kuat, sehingga saat beranjak pulang setelah mengantar si Kecil, selalu berpikirlah positif supaya anak merasa tenang dan nyaman saat belajar di sekolah.

  1. Percayakan Kepada Guru
Saat orang tua sudah memutuskan untuk memasukkan anak-anak ke sekolah umum, ini artinya Anda sebaiknya mempercayakan si Kecil kepada guru dan pihak sekolah. Yakinlah bahwa para guru pasti akan siap membantu jika anak-anak mengalami kendala saat berada di sekolah.
Anda boleh memberikan nomor ponsel kepada guru kelasnya, sehingga jika sesuatu terjadi beliau bisa memberitahukan Anda secara langsung. Selain itu, guru juga bisa menginformasikan perkembangan si Kecil selama di sekolah. Hubungan baik orang tua dan guru sangat diperlukan demi kelancaran kegiatan belajar mengajar, lho.

  1. Beri Hadiah
Anak-anak suka hadiah, sehingga tidak ada salahnya Anda mulai memberlakukan sistem rewarduntuk anak. Sebelum mulai bersekolah, coba sampaikan kepada si Kecil bahwa Ayah dan Bunda akan memberikan hadiah jika ia berani untuk tidak ditunggui selama sekolah. Biasanya hadiah akan memberikan motivasi kepada si Kecil untuk lebih berani di sekolah.
Namun bagaimana jika strategi ini tidak mempan? Tenang, artinya Anda belum boleh terburu-buru. Selama minggu pertama dan kedua, Anda masih bisa menungguinya di sekolah sambil ia beradaptasi dengan lingkungan barunya. Namun di minggu ketiga mulai berikan pengertian bahwa ia harus berani di sekolah tanpa ditunggu.

  1. Siapkan Makanan Kesukaan
Selain hadiah, reward berupa makanan kesukaan juga menjadi favorit si Kecil. Sehari sebelum sekolah, coba tanyakan kepada anak besok ingin dibuatkan menu apa untuk sarapan, atau cemilan apa yang diminta setelah pulang sekolah. Selain itu, Anda bisa tanyakan ingin dibuatkan menu apa untuk bekal ke sekolah. Jika ingin membuat kejutan untuk si Kecil, beritahu bahwa Bunda akan membuatkan masakan favorit untuk besok, dan minta anak untuk menebak.
Dan coba buat perjanjian kecil, bahwa Anda akan membuatkan makanan favoritnya kalau si Kecil bersedia tidak ditunggui. Jika berhasil, artinya Anda sudah mendapatkan kunci awal untuk membuka rasa percaya dirinya!

  1. Bantu Ia Beradaptasi
Selama satu atau dua minggu pertama, saat masih bisa menungguinya selama di sekolah, Anda bisa mencoba untuk membantu anak supaya bisa membaur dengan lingkungan barunya. Bantu si Kecil untuk berkenalan dengan teman-teman barunya, supaya bisa mengalihkan pikirannya. Pelan-pelan, Anda bisa pamit untuk berpindah ke ruang tunggu di taman, supaya ia bisa bermain bebas bersama teman-temannya. Nah, jika si Kecil sudah mendapat teman baru biasanya akan lebih mudah ditinggal pulang.

Proses adaptasi si Kecil saat pertama bersekolah memang terbilang cukup lama, satu hal yang tidak kalah penting adalah menjaga komunikasi baik dengan anak. Saat menemput ke sekolah, minta ia menceritakan harinya di sekolah. Bagaimana teman-temannya, apa saja yang dipelajari di sekolah, dan bernyanyi bersama di perjalanan. Dengan membiasakan hal ini, si Kecil akan merasa lebih nyaman dan dekat dengan orang tua meskipun tidak ditunggui di sekolah. Juga, waktu belajar menjadi saat menyenangkan!
0 komentar

Bagaimana Mengajari Anak Untuk Berani Sekolah Tanpa Didampingi ...

Bulan Juli bertepatan dengan tahun ajaran baru, sehingga anak-anak harus kembali ke sekolah. Bagi mereka yang mengalami kenaikan kelas, tentu hari pertama kembali belajar adalah saat yang paling menyenangkan karena bertemu dengan teman-teman setelah satu bulan lamanya libur.
Namun berbeda halnya dengan anak-anak di tingkat pertama, terutama TK dan SD. Minggu pertama ke sekolah seringkali menjadi drama. Banyak sekali anak yang rewel tidak mau ditinggal orang tuanya. Perasaan cemas berada di lingkungan baru, lama adaptasi dengan teman-teman, dan perasaan belum siap pergi keluar rumah sering membuat si Kecil merengek minta ditunggu.
Kejadian ini biasanya terjadi di minggu pertama, di mana orang tua masih diperbolehkan menunggu anak di sekolah supaya si Kecil merasa nyaman dan cepat beradaptasi. Namun bagaimana jika sudah hampir satu bulan lamanya anak-anak masih minta ditunggui, padahal Anda harus berangkat ke kantor.
Tenang, ada 5 tips cerdas yang bisa dilakukan untuk membiasakan si Kecil mandiri dan tidak ditunggui lagi:

  1. Mulai Secara Perlahan dan Konsisten
Beberapa orang tua nekat meninggalkan anak-anak di hari pertama sekolah, tanpa si Kecil mengetahui bahwa ibunya sudah tidak menungguinya di sekolah. Sebenarnya hal seperti ini lah yang menambah drama di sekolah, saat di hari pertama si Kecil masih belum terlalu percaya diri untuk belajar sendiri, namun orang tua justru meninggalkannya.
Supaya anak belajar mandiri, mulai perlahan saja. Jika diperlukan, susun rencana dan tahapan. Kapan anak harus ditunggu, dan kapan sudah bisa ditinggal.

Minggu pertama
Anda boleh menunggui anak dari dekat, sehingga si Kecil bisa melihat dengan jelas bahwa ada orang tuanya di dekatnya. Hal ini akan membuat si Kecil merasa lebih nyaman, sehingga di kelas ia akan lebih berani, dan menunjukkan bahwa ia mampu menyelesaikan pelajaran bahkan maju ke depan kelas.

Minggu kedua
Jika si Kecil sudah mulai berani, Anda bisa mencoba menungguinya dari jauh. Taman depan kelas atau ruang tunggu di depan kelas adalah lokasi yang bisa Anda gunakan, yang penting si Kecil masih bisa melihat Anda. Dengan berada di ruangan lain (walaupun masih dalam area yang sama) akan melatih anak untuk lebih mandiri saat di sekolah.

Minggu ketiga
Setelah dua minggu bersekolah, biasanya si Kecil sudah mulai menjalin pertemanan dengan beberapa anak. Memasuki minggu ketiga, Anda bisa mulai menambah jarak selama menunggu di sekolah. Setelah mengantar si Kecil sampai ke depan kelas, beritahu bahwa Bunda tidak pulang, namun akan menunggu di kantin atau ruang tunggu sekolah.
Di samping mencoba perlahan, Anda sebaiknya mulai memberikan pengertian kepada si Kecil bahwa mulai minggu depan Bunda hanya mengantar dan menjemput saja. Namun Anda juga harus konsisten melakukannya setiap hari, sehingga rasa berani dan percaya diri si Kecil mulai terbentuk untuk lebih mandiri.

Minggu keempat
Tiga minggu adalah waktu yang cukup untuk menunggui anak di sekolah, sehingga di minggu keempat Anda sudah bisa melepasnya sendiri di sekolah. Ikatan batin antara ibu dan anak cukup kuat, sehingga saat beranjak pulang setelah mengantar si Kecil, selalu berpikirlah positif supaya anak merasa tenang dan nyaman saat belajar di sekolah.

  1. Percayakan Kepada Guru
Saat orang tua sudah memutuskan untuk memasukkan anak-anak ke sekolah umum, ini artinya Anda sebaiknya mempercayakan si Kecil kepada guru dan pihak sekolah. Yakinlah bahwa para guru pasti akan siap membantu jika anak-anak mengalami kendala saat berada di sekolah.
Anda boleh memberikan nomor ponsel kepada guru kelasnya, sehingga jika sesuatu terjadi beliau bisa memberitahukan Anda secara langsung. Selain itu, guru juga bisa menginformasikan perkembangan si Kecil selama di sekolah. Hubungan baik orang tua dan guru sangat diperlukan demi kelancaran kegiatan belajar mengajar, lho.

  1. Beri Hadiah
Anak-anak suka hadiah, sehingga tidak ada salahnya Anda mulai memberlakukan sistem rewarduntuk anak. Sebelum mulai bersekolah, coba sampaikan kepada si Kecil bahwa Ayah dan Bunda akan memberikan hadiah jika ia berani untuk tidak ditunggui selama sekolah. Biasanya hadiah akan memberikan motivasi kepada si Kecil untuk lebih berani di sekolah.
Namun bagaimana jika strategi ini tidak mempan? Tenang, artinya Anda belum boleh terburu-buru. Selama minggu pertama dan kedua, Anda masih bisa menungguinya di sekolah sambil ia beradaptasi dengan lingkungan barunya. Namun di minggu ketiga mulai berikan pengertian bahwa ia harus berani di sekolah tanpa ditunggu.

  1. Siapkan Makanan Kesukaan
Selain hadiah, reward berupa makanan kesukaan juga menjadi favorit si Kecil. Sehari sebelum sekolah, coba tanyakan kepada anak besok ingin dibuatkan menu apa untuk sarapan, atau cemilan apa yang diminta setelah pulang sekolah. Selain itu, Anda bisa tanyakan ingin dibuatkan menu apa untuk bekal ke sekolah. Jika ingin membuat kejutan untuk si Kecil, beritahu bahwa Bunda akan membuatkan masakan favorit untuk besok, dan minta anak untuk menebak.
Dan coba buat perjanjian kecil, bahwa Anda akan membuatkan makanan favoritnya kalau si Kecil bersedia tidak ditunggui. Jika berhasil, artinya Anda sudah mendapatkan kunci awal untuk membuka rasa percaya dirinya!

  1. Bantu Ia Beradaptasi
Selama satu atau dua minggu pertama, saat masih bisa menungguinya selama di sekolah, Anda bisa mencoba untuk membantu anak supaya bisa membaur dengan lingkungan barunya. Bantu si Kecil untuk berkenalan dengan teman-teman barunya, supaya bisa mengalihkan pikirannya. Pelan-pelan, Anda bisa pamit untuk berpindah ke ruang tunggu di taman, supaya ia bisa bermain bebas bersama teman-temannya. Nah, jika si Kecil sudah mendapat teman baru biasanya akan lebih mudah ditinggal pulang.

Proses adaptasi si Kecil saat pertama bersekolah memang terbilang cukup lama, satu hal yang tidak kalah penting adalah menjaga komunikasi baik dengan anak. Saat menemput ke sekolah, minta ia menceritakan harinya di sekolah. Bagaimana teman-temannya, apa saja yang dipelajari di sekolah, dan bernyanyi bersama di perjalanan. Dengan membiasakan hal ini, si Kecil akan merasa lebih nyaman dan dekat dengan orang tua meskipun tidak ditunggui di sekolah. Juga, waktu belajar menjadi saat menyenangkan!
0 komentar

Trik Atasi Anak Yang Minta Ditunggu Di Sekolah

Bulan Juli bertepatan dengan tahun ajaran baru, sehingga anak-anak harus kembali ke sekolah. Bagi mereka yang mengalami kenaikan kelas, tentu hari pertama kembali belajar adalah saat yang paling menyenangkan karena bertemu dengan teman-teman setelah satu bulan lamanya libur.
Namun berbeda halnya dengan anak-anak di tingkat pertama, terutama TK dan SD. Minggu pertama ke sekolah seringkali menjadi drama. Banyak sekali anak yang rewel tidak mau ditinggal orang tuanya. Perasaan cemas berada di lingkungan baru, lama adaptasi dengan teman-teman, dan perasaan belum siap pergi keluar rumah sering membuat si Kecil merengek minta ditunggu.
Kejadian ini biasanya terjadi di minggu pertama, di mana orang tua masih diperbolehkan menunggu anak di sekolah supaya si Kecil merasa nyaman dan cepat beradaptasi. Namun bagaimana jika sudah hampir satu bulan lamanya anak-anak masih minta ditunggui, padahal Anda harus berangkat ke kantor.
Tenang, ada 5 tips cerdas yang bisa dilakukan untuk membiasakan si Kecil mandiri dan tidak ditunggui lagi:

  1. Mulai Secara Perlahan dan Konsisten
Beberapa orang tua nekat meninggalkan anak-anak di hari pertama sekolah, tanpa si Kecil mengetahui bahwa ibunya sudah tidak menungguinya di sekolah. Sebenarnya hal seperti ini lah yang menambah drama di sekolah, saat di hari pertama si Kecil masih belum terlalu percaya diri untuk belajar sendiri, namun orang tua justru meninggalkannya.
Supaya anak belajar mandiri, mulai perlahan saja. Jika diperlukan, susun rencana dan tahapan. Kapan anak harus ditunggu, dan kapan sudah bisa ditinggal.

Minggu pertama
Anda boleh menunggui anak dari dekat, sehingga si Kecil bisa melihat dengan jelas bahwa ada orang tuanya di dekatnya. Hal ini akan membuat si Kecil merasa lebih nyaman, sehingga di kelas ia akan lebih berani, dan menunjukkan bahwa ia mampu menyelesaikan pelajaran bahkan maju ke depan kelas.

Minggu kedua
Jika si Kecil sudah mulai berani, Anda bisa mencoba menungguinya dari jauh. Taman depan kelas atau ruang tunggu di depan kelas adalah lokasi yang bisa Anda gunakan, yang penting si Kecil masih bisa melihat Anda. Dengan berada di ruangan lain (walaupun masih dalam area yang sama) akan melatih anak untuk lebih mandiri saat di sekolah.

Minggu ketiga
Setelah dua minggu bersekolah, biasanya si Kecil sudah mulai menjalin pertemanan dengan beberapa anak. Memasuki minggu ketiga, Anda bisa mulai menambah jarak selama menunggu di sekolah. Setelah mengantar si Kecil sampai ke depan kelas, beritahu bahwa Bunda tidak pulang, namun akan menunggu di kantin atau ruang tunggu sekolah.
Di samping mencoba perlahan, Anda sebaiknya mulai memberikan pengertian kepada si Kecil bahwa mulai minggu depan Bunda hanya mengantar dan menjemput saja. Namun Anda juga harus konsisten melakukannya setiap hari, sehingga rasa berani dan percaya diri si Kecil mulai terbentuk untuk lebih mandiri.

Minggu keempat
Tiga minggu adalah waktu yang cukup untuk menunggui anak di sekolah, sehingga di minggu keempat Anda sudah bisa melepasnya sendiri di sekolah. Ikatan batin antara ibu dan anak cukup kuat, sehingga saat beranjak pulang setelah mengantar si Kecil, selalu berpikirlah positif supaya anak merasa tenang dan nyaman saat belajar di sekolah.

  1. Percayakan Kepada Guru
Saat orang tua sudah memutuskan untuk memasukkan anak-anak ke sekolah umum, ini artinya Anda sebaiknya mempercayakan si Kecil kepada guru dan pihak sekolah. Yakinlah bahwa para guru pasti akan siap membantu jika anak-anak mengalami kendala saat berada di sekolah.
Anda boleh memberikan nomor ponsel kepada guru kelasnya, sehingga jika sesuatu terjadi beliau bisa memberitahukan Anda secara langsung. Selain itu, guru juga bisa menginformasikan perkembangan si Kecil selama di sekolah. Hubungan baik orang tua dan guru sangat diperlukan demi kelancaran kegiatan belajar mengajar, lho.

  1. Beri Hadiah
Anak-anak suka hadiah, sehingga tidak ada salahnya Anda mulai memberlakukan sistem rewarduntuk anak. Sebelum mulai bersekolah, coba sampaikan kepada si Kecil bahwa Ayah dan Bunda akan memberikan hadiah jika ia berani untuk tidak ditunggui selama sekolah. Biasanya hadiah akan memberikan motivasi kepada si Kecil untuk lebih berani di sekolah.
Namun bagaimana jika strategi ini tidak mempan? Tenang, artinya Anda belum boleh terburu-buru. Selama minggu pertama dan kedua, Anda masih bisa menungguinya di sekolah sambil ia beradaptasi dengan lingkungan barunya. Namun di minggu ketiga mulai berikan pengertian bahwa ia harus berani di sekolah tanpa ditunggu.

  1. Siapkan Makanan Kesukaan
Selain hadiah, reward berupa makanan kesukaan juga menjadi favorit si Kecil. Sehari sebelum sekolah, coba tanyakan kepada anak besok ingin dibuatkan menu apa untuk sarapan, atau cemilan apa yang diminta setelah pulang sekolah. Selain itu, Anda bisa tanyakan ingin dibuatkan menu apa untuk bekal ke sekolah. Jika ingin membuat kejutan untuk si Kecil, beritahu bahwa Bunda akan membuatkan masakan favorit untuk besok, dan minta anak untuk menebak.
Dan coba buat perjanjian kecil, bahwa Anda akan membuatkan makanan favoritnya kalau si Kecil bersedia tidak ditunggui. Jika berhasil, artinya Anda sudah mendapatkan kunci awal untuk membuka rasa percaya dirinya!

  1. Bantu Ia Beradaptasi
Selama satu atau dua minggu pertama, saat masih bisa menungguinya selama di sekolah, Anda bisa mencoba untuk membantu anak supaya bisa membaur dengan lingkungan barunya. Bantu si Kecil untuk berkenalan dengan teman-teman barunya, supaya bisa mengalihkan pikirannya. Pelan-pelan, Anda bisa pamit untuk berpindah ke ruang tunggu di taman, supaya ia bisa bermain bebas bersama teman-temannya. Nah, jika si Kecil sudah mendapat teman baru biasanya akan lebih mudah ditinggal pulang.

Proses adaptasi si Kecil saat pertama bersekolah memang terbilang cukup lama, satu hal yang tidak kalah penting adalah menjaga komunikasi baik dengan anak. Saat menemput ke sekolah, minta ia menceritakan harinya di sekolah. Bagaimana teman-temannya, apa saja yang dipelajari di sekolah, dan bernyanyi bersama di perjalanan. Dengan membiasakan hal ini, si Kecil akan merasa lebih nyaman dan dekat dengan orang tua meskipun tidak ditunggui di sekolah. Juga, waktu belajar menjadi saat menyenangkan!
0 komentar

Cara Membuat Anak Berani Sekolah Tanpa Didampingi Orangtua .





Beberapa anak saat pertama masuk sekolah biasanya tidak berani ditinggal sendiri. Jika ini terjadi hanya pada minggu pertama sih masih wajar.
Tapi, bagaimana jika sudah lebih dari satu minggu bahkan satu bulan anak masih tidak berani ditinggal sendiri oleh orangtuanya?
Maunya ditunggui terus . .
Bahkan, ada anak yang begitu khawatir jika ditinggal sang ibu hingga tiap jam ia menengok ke jendela.
Untuk mengecek apakah ibunya masih menunggu di luar ataukah sudah lenyap.
Apakah orangtua bijak Indonesia sedang mengalami hal ini?
Jangan sedih atau bingung karena saat ini kita akan membahas bagaimana cara membuat anak berani sekolah sendiri.
Tanpa perlu ditunggui orangtua, tanpa perlu melihat tangisan dan rengekan anak dan Anda pun tidak perlu meninggalkan anak secara sembunyi-sembunyi saat ingin membuatnya berani sekolah sendiri.

Penyebab anak tidak berani ditinggal sendiri saat sekolah adalah. .

Karena selama ini orangtua jarang memberikan kesempatan untuk anak berbuat secara mandiri.
Setiap anak mencoba melakukan sesuatu, bukan pujian yang ia dapatkan.
Melainkan, larangan, kemarahan dan kritikan dari orangtuanya.
Hal inilah yang memicu anak tumbuh menjadi pribadi yang kurang percaya diri.
Anak-anak tidak mengenal potensinya karena orangtua menganggap mereka masih kecil dan butuh bantuan.
Nah, kebiasaan merespon anak dengan larangan, kemarahan dan kritikan inilah yang membuat anak jadi penakut.
Ia tak benar-benar percaya diri untuk masuk sekolah di hari pertama.
Ia tak benar-benar berani untuk memandang guru dan teman-teman sebayanya yang baru.

Cara Membuat Anak Berani Sekolah Sendiri

Membuat anak berani sekolah sendiri tanpa pendampingan orangtua merupakan serangkaian persiapan awal anak masuk sekolah.
Di minggu pertama, Anda boleh menunggui anak di sekolah.
Usahakan jaraknya cukup dekat hingga anak mampu melihat Anda dengan jelas.
Tujuannya agar anak merasa aman dan nyaman di sekolah.
Anak pun akan lebih percaya diri karena ada seseorang yang peduli dan mendukungnya.
Setelah melewati minggu pertama, biasanya orangtua mengendap-endap pergi meninggalkan anak.
Kita menganggap cara ini ampuh membuat anak berani sekolah sendiri.
Yang terjadi justru sebaliknya.
Anak-anak akan semakin takut ditinggal sendiri dan menjadi tidak percaya kepada Anda.
Bukannya semangat sekolah, ia malah menjadi malas karena teringat pengalaman kemarin saat Anda meninggalkannya diam-diam.
Hingga timbul kekhawatiran berlebihan dan membuat anak mengikat Anda lebih kencang dari biasanya.
Seperti contoh kasus di atas, setiap jam anak akan menengok ke jendela untuk mengecek keberadaan orangtuanya.
Dampak negatifnya, anak Anda menjadi tidak fokus mengikuti proses pembelajaran di kelas.
Jadi, solusi terkait cara membuat anak berani sekolah sendiri adalah jangan langsung menghilang.
Tapi, menghilang secara bertahap dengan tetap memberikan penjelasan kepada anak.
Pada minggu kedua, Anda bisa tetap menunggui anak dengan jarak yang agak jauh tapi masih terlihat oleh anak Anda.
Selanjutnya, pada minggu ketiga Anda bisa menunggu anak di area sekolah tapi usahakan untuk tidak terlihat olehnya.
Nah, pada tahap ini Anda wajib memberikan pengertian kepada anak.
Kakak, mama masih nungguin kamu di sekolah kok. Mama ada di kantin dekat lapangan. Hal ini mama lakukan supaya kakak bisa fokus belajar dan berani sekolah sendiri tanpa mama.
Selanjutnya, tanyakan kepada anak bagaimana perasaannya tentang perlakuan Anda ini.
Apakah ia merasa terganggu ataukah biasa saja dan tak ada kendala?
Apabila anak merasa tak nyaman hingga menangis dan meminta Anda untuk kembali menungguinya pada jarak yang dekat, hindari untuk tergoda.
Ya sudah besok mama tunggui lagi di depan kelas. Satu hari saja ya.
Orangtua bijak Indonesia . . 
hasil yang memuaskan berawal dari proses yang konsisten.
Jadi, apabila anak merengek dan meminta Anda kembali, yakinkan anak, bahwa ia pemberani dan percaya diri.
Jika sudah berhasil, maka pada minggu keempat Anda bisa melepas anak untuk berangkat sekolah sendiri tanpa menungguinya lagi.
Lepaslah anak Anda dengan pikiran positif bahwa pihak sekolah, khususnya guru akan bertanggung jawab penuh terhadap anak Anda selama ia berada di sekolah.
Pikiran positif membantu menenangkan hati dan pikiran Anda selama anak mengikuti proses pembelajaran di sekolah.
Nah, berikut ada 3 hal yang perlu Anda perhatikan terkait cara membuat anak berani sekolah sendiri.
1. Membuat Target Waktu
Sebagai orangtua, tentu Anda mengenal kepribadian anak lebih baik daripada orang lain.
Jadi, perhatikan kepribadian anak Anda. Apakah ia cukup percaya diri atau sering minder?
Apakah ia anak pemberani dan mudah beradaptasi atau cenderung takut dengan orang-orang baru?
Berdasarkan kepribadian anak ini, lanjutkan dengan membuat target waktu.
Jika anak memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan mudah beradaptasi, maka waktu 2 atau 3 minggu adalah pilihan terbaik.
Namun, apabila anak Anda tergolong penakut saat bertemu dengan lingkungan baru, maka waktu 4 minggu adalah pilihan ideal.
2. Memberikan Kepercayaan pada Anak
Banyak orangtua yang sulit memberikan kepercayaan kepada anak.
Kita menganggap anak masih kecil dan membutuhkan bantuan.
Sehingga, muncul ketakutan-ketakutan tak beralasan yang mendorong kita selalu membantu anak meskipun untuk hal sepele.
Misalnya, mengikat tali sepatu saat berangkat sekolah. Awalnya, kita sudah melatih anak untuk mengikat tali sepatu sendiri.
Tapi, pagi itu ia terlihat kesulitan hingga membutuhkan waktu lebih dari 15 menit untuk mengikat tali sepatu.
Karena jam sudah menunjukkan pukul 06.50 dan takut terlambat masuk sekolah, Anda menjadi tidak sabar.
Kemudian, Anda mengulurkan tangan untuk memberikan bantuan.
Orangtua bijak Indonesia, buatlah komitmen dalam memberikan kepercayaan pada anak.
Katakan pada anak . .
Bapak percaya kamu bisa
atau. .
Ibu percaya kamu bisa menyelesaikan masalah ini
Kepercayaan yang Anda berikan pada anak tidak akan berakhir sia-sia.
Anak-anak akan sadar dengan potensi yang dimiliki, sehingga kepercayaan dirinya akan tumbuh dengan sehat.
3. Memberikan Kepercayaan pada Pihak Sekolah
Yang perlu Anda perhatikan terkait cara membuat anak berani sekolah sendiri adalah percaya pada pihak sekolah.
Bahwa sekolah akan bertanggung jawab penuh terhadap anak kita yang ada di sekolah.
Dan, guru-guru akan memperlakukan anak Anda dengan baik.
Tanpa rasa percaya ini, Anda akan selalu merasa gusar, takut dan was-was terhadap keadaan anak di sekolah.
Hal ini justru akan mengganggu aktivitas Anda karena membuat Anda tidak fokus.
Jadi, kepercayaan Anda pada sekolah juga sangat mempengaruhi keberanian anak berangkat sekolah sendiri.

Setelah anak konsisten berani ditinggal sendiri, Anda tetap harus mengontrol dan mengawasinya di sekolah.
Meskipun ia terlihat baik-baik saja dan tidak menimbulkan masalah, orangtua tetap harus memberikan motivasi agar anak semangat sekolah.
Karena motivasi orangtua layaknya kayu bakar yang membuat api unggun lebih dahsyat membara.
0 komentar

Cara Membuat Anak Berani Sekolah Tanpa Didampingi Orangtua




Beberapa anak saat pertama masuk sekolah biasanya tidak berani ditinggal sendiri. Jika ini terjadi hanya pada minggu pertama sih masih wajar.
Tapi, bagaimana jika sudah lebih dari satu minggu bahkan satu bulan anak masih tidak berani ditinggal sendiri oleh orangtuanya?
Maunya ditunggui terus . .
Bahkan, ada anak yang begitu khawatir jika ditinggal sang ibu hingga tiap jam ia menengok ke jendela.
Untuk mengecek apakah ibunya masih menunggu di luar ataukah sudah lenyap.
Apakah orangtua bijak Indonesia sedang mengalami hal ini?
Jangan sedih atau bingung karena saat ini kita akan membahas bagaimana cara membuat anak berani sekolah sendiri.
Tanpa perlu ditunggui orangtua, tanpa perlu melihat tangisan dan rengekan anak dan Anda pun tidak perlu meninggalkan anak secara sembunyi-sembunyi saat ingin membuatnya berani sekolah sendiri.

Penyebab anak tidak berani ditinggal sendiri saat sekolah adalah. .

Karena selama ini orangtua jarang memberikan kesempatan untuk anak berbuat secara mandiri.
Setiap anak mencoba melakukan sesuatu, bukan pujian yang ia dapatkan.
Melainkan, larangan, kemarahan dan kritikan dari orangtuanya.
Hal inilah yang memicu anak tumbuh menjadi pribadi yang kurang percaya diri.
Anak-anak tidak mengenal potensinya karena orangtua menganggap mereka masih kecil dan butuh bantuan.
Nah, kebiasaan merespon anak dengan larangan, kemarahan dan kritikan inilah yang membuat anak jadi penakut.
Ia tak benar-benar percaya diri untuk masuk sekolah di hari pertama.
Ia tak benar-benar berani untuk memandang guru dan teman-teman sebayanya yang baru.

Cara Membuat Anak Berani Sekolah Sendiri

Membuat anak berani sekolah sendiri tanpa pendampingan orangtua merupakan serangkaian persiapan awal anak masuk sekolah.
Di minggu pertama, Anda boleh menunggui anak di sekolah.
Usahakan jaraknya cukup dekat hingga anak mampu melihat Anda dengan jelas.
Tujuannya agar anak merasa aman dan nyaman di sekolah.
Anak pun akan lebih percaya diri karena ada seseorang yang peduli dan mendukungnya.
Setelah melewati minggu pertama, biasanya orangtua mengendap-endap pergi meninggalkan anak.
Kita menganggap cara ini ampuh membuat anak berani sekolah sendiri.
Yang terjadi justru sebaliknya.
Anak-anak akan semakin takut ditinggal sendiri dan menjadi tidak percaya kepada Anda.
Bukannya semangat sekolah, ia malah menjadi malas karena teringat pengalaman kemarin saat Anda meninggalkannya diam-diam.
Hingga timbul kekhawatiran berlebihan dan membuat anak mengikat Anda lebih kencang dari biasanya.
Seperti contoh kasus di atas, setiap jam anak akan menengok ke jendela untuk mengecek keberadaan orangtuanya.
Dampak negatifnya, anak Anda menjadi tidak fokus mengikuti proses pembelajaran di kelas.
Jadi, solusi terkait cara membuat anak berani sekolah sendiri adalah jangan langsung menghilang.
Tapi, menghilang secara bertahap dengan tetap memberikan penjelasan kepada anak.
Pada minggu kedua, Anda bisa tetap menunggui anak dengan jarak yang agak jauh tapi masih terlihat oleh anak Anda.
Selanjutnya, pada minggu ketiga Anda bisa menunggu anak di area sekolah tapi usahakan untuk tidak terlihat olehnya.
Nah, pada tahap ini Anda wajib memberikan pengertian kepada anak.
Kakak, mama masih nungguin kamu di sekolah kok. Mama ada di kantin dekat lapangan. Hal ini mama lakukan supaya kakak bisa fokus belajar dan berani sekolah sendiri tanpa mama.
Selanjutnya, tanyakan kepada anak bagaimana perasaannya tentang perlakuan Anda ini.
Apakah ia merasa terganggu ataukah biasa saja dan tak ada kendala?
Apabila anak merasa tak nyaman hingga menangis dan meminta Anda untuk kembali menungguinya pada jarak yang dekat, hindari untuk tergoda.
Ya sudah besok mama tunggui lagi di depan kelas. Satu hari saja ya.
Orangtua bijak Indonesia . . 
hasil yang memuaskan berawal dari proses yang konsisten.
Jadi, apabila anak merengek dan meminta Anda kembali, yakinkan anak, bahwa ia pemberani dan percaya diri.
Jika sudah berhasil, maka pada minggu keempat Anda bisa melepas anak untuk berangkat sekolah sendiri tanpa menungguinya lagi.
Lepaslah anak Anda dengan pikiran positif bahwa pihak sekolah, khususnya guru akan bertanggung jawab penuh terhadap anak Anda selama ia berada di sekolah.
Pikiran positif membantu menenangkan hati dan pikiran Anda selama anak mengikuti proses pembelajaran di sekolah.
Nah, berikut ada 3 hal yang perlu Anda perhatikan terkait cara membuat anak berani sekolah sendiri.
1. Membuat Target Waktu
Sebagai orangtua, tentu Anda mengenal kepribadian anak lebih baik daripada orang lain.
Jadi, perhatikan kepribadian anak Anda. Apakah ia cukup percaya diri atau sering minder?
Apakah ia anak pemberani dan mudah beradaptasi atau cenderung takut dengan orang-orang baru?
Berdasarkan kepribadian anak ini, lanjutkan dengan membuat target waktu.
Jika anak memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan mudah beradaptasi, maka waktu 2 atau 3 minggu adalah pilihan terbaik.
Namun, apabila anak Anda tergolong penakut saat bertemu dengan lingkungan baru, maka waktu 4 minggu adalah pilihan ideal.
2. Memberikan Kepercayaan pada Anak
Banyak orangtua yang sulit memberikan kepercayaan kepada anak.
Kita menganggap anak masih kecil dan membutuhkan bantuan.
Sehingga, muncul ketakutan-ketakutan tak beralasan yang mendorong kita selalu membantu anak meskipun untuk hal sepele.
Misalnya, mengikat tali sepatu saat berangkat sekolah. Awalnya, kita sudah melatih anak untuk mengikat tali sepatu sendiri.
Tapi, pagi itu ia terlihat kesulitan hingga membutuhkan waktu lebih dari 15 menit untuk mengikat tali sepatu.
Karena jam sudah menunjukkan pukul 06.50 dan takut terlambat masuk sekolah, Anda menjadi tidak sabar.
Kemudian, Anda mengulurkan tangan untuk memberikan bantuan.
Orangtua bijak Indonesia, buatlah komitmen dalam memberikan kepercayaan pada anak.
Katakan pada anak . .
Bapak percaya kamu bisa
atau. .
Ibu percaya kamu bisa menyelesaikan masalah ini
Kepercayaan yang Anda berikan pada anak tidak akan berakhir sia-sia.
Anak-anak akan sadar dengan potensi yang dimiliki, sehingga kepercayaan dirinya akan tumbuh dengan sehat.
3. Memberikan Kepercayaan pada Pihak Sekolah
Yang perlu Anda perhatikan terkait cara membuat anak berani sekolah sendiri adalah percaya pada pihak sekolah.
Bahwa sekolah akan bertanggung jawab penuh terhadap anak kita yang ada di sekolah.
Dan, guru-guru akan memperlakukan anak Anda dengan baik.
Tanpa rasa percaya ini, Anda akan selalu merasa gusar, takut dan was-was terhadap keadaan anak di sekolah.
Hal ini justru akan mengganggu aktivitas Anda karena membuat Anda tidak fokus.
Jadi, kepercayaan Anda pada sekolah juga sangat mempengaruhi keberanian anak berangkat sekolah sendiri.

Setelah anak konsisten berani ditinggal sendiri, Anda tetap harus mengontrol dan mengawasinya di sekolah.
Meskipun ia terlihat baik-baik saja dan tidak menimbulkan masalah, orangtua tetap harus memberikan motivasi agar anak semangat sekolah.
Karena motivasi orangtua layaknya kayu bakar yang membuat api unggun lebih dahsyat membara.
0 komentar

Cara Fokus Belajar

Sebagian besar ayah bunda mengeluh karena menghadapi anaknya yang sulit untuk berkonsentrasi. Ayah bunda sering melihat anaknya kehilangan minat belajar bahkan ekspresi wajahnya sering melamun di saat seharusnya mereka sedang belajar. Rendahnya perhatian terhadap studi akademik menyebabkan prestasi mereka menurun. Ironisnya, banyak ditemui pula seorang anak yang tadinya memiliki prestasi baik, tiba-tiba kehilangan minat dalam belajar.  Harapan orang tua agar prestasi mereka semakin meningkat, justru sebaliknya, ternyata anak memiliki permasalahan dalam konsentrasi.
Kesulitan konsentrasi pada anak dapat diindikasi bila perhatian mereka mudah terpecah atau mudah teralih. Anak sulit untuk fokus dalam memperhatikan suatu hal. Jadi, untuk suatu pekerjaan, mereka tidak bisa menuntaskannya.  Sedikit-sedikit, perhatiannya sudah berubah dan itu terjadi pada semua hal. Akan tetapi ayah bunda baru dapat menyimpulkan bahwa anaknya mengalami sulit konsentrasi, setelah dibandingkan dengan anak normal umumnya.
Gejala ini sebaiknya disikapi oleh ayah bunda dengan bijaksana. Ayah bunda hendaknya tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa anaknya mengalami gangguan konsentrasi, karena mereka memang sedang berada pada tahap senang untuk menjelajahi dunia mereka dan mengeksplorasi hal-hal baru yang ada di sekitarnya. Mereka sedang dalam proses belajar untuk berpikir dan menganalisa sebab akibat. Hal ini mungkin tampak biasa di  mata orang dewasa, tetapi bagi anak ini merupakan hal yang indah. Hal inilah yang menyebabkan mereka cenderung terganggu dengan hal-hal atau kejadian yang terjadi di sekitar mereka.
Namun ada banyak hal yang dapat membantu ayah bunda untuk meningkatkan konsentrasi pada anak, beberapa diantaranya yaitu :
Waktu istirahat yang cukup
Bila tubuh anak sudah lelah, jangan dipaksakan untuk terus belajar. Biarkan anak beristirahat yang cukup,  karena bila dipaksakan pun belajarnya akan menjadi kurang optimal. Misalnya ketika mereka pulang sekolah, biasakan agar anak tidur siang walau hanya 1-2 jam. Ini membuat otak dan fisik mereka istirahat, sehingga bila bangun tidur anak akan lebih segar untuk diajak berpikir. Selain itu atur waktu tidur malam mereka, jangan sampai terlalu larut. Anak yang tidak tidur baik pada malam harinya, maka akan mempengaruhi konsentrasi anak pada keesokan harinya.
Mengontrol asupan makanan
Pola makan sehat sangat berpengaruh terhadap daya konsentrasi anak. Hindari mengkonsumsi makanan yang mengandung gula terlalu tinggi. Memiliki kadar gula yang tinggi dalam sistem tubuh dapat menyebabkan sistem tubuh mudah terganggu. Misalnya mudah mengantuk dan lesu. Kurangi makanan yang berlemak, pertinggi protein tanpa lemak seperti telur. Dengan protein tinggi akan berpengaruh pada fungsi otak dopamin, yakni untuk meningkatkan konsentrasi lebih mudah.
Selain itu, sebagai penunjang untuk kecerdasan otak anak, berikan mereka nutrisi yang baik dan seimbang. Zat-zat yang terkadung dalam makanan seperti L-aspartat, asam lemak omega 3 dan kalsium adalah zat yang dapat membantu untuk meningkatkan konsentrasi anak. Usahakan agar anak menghindari makanan siap saji  yang mengandung bahan perwarna, vetsin, kafein, dan zat-zat pengawet. Perbanyak makan buah dan sayur karena akan sangat berguna untuk menunjang kesegaran dan kesehatan tubuh mereka. Minuman yang sehat, seperti air putih dapat juga membantu untuk meningkatkan konsentrasi. Biasakan agar anak mau minum banyak air putih. Bila anak kurang minum, mereka akan dehidrasi sehingga otak merekapun akan menjadi lesu.
Olah raga teratur
Tingkatkan aktifitas fisik anak ayah bunda. Tetapi tidak harus dengan olah raga yang berat, melainkan aktifitas yang menyenangkan bagi mereka, seperti bersepeda dan bermain bola. Ketika anak melakukan aktifitas fisik, darah akan dipompa dan kirim ke otak, sehingga otak anak tidak mudah lesu dan dapat meningkatkan konsentrasi pada mereka
Kendalikan menonton televisi dan elektronik lainnya
Segala sesuatu yang berlebihan memang tidak baik. Itulah yang dialami oleh sebagian besar anak jaman sekarang, yaitu gadget mania dan senang menghabiskan waktu di depan televisi. Terlalu banyak main games dan menonton televisi dapat membuat anak pasif dari melakukan kegiatan intelektual dan fisik mereka, seperti membaca, mengerjakan PR, bermain di luar, dan berinteraksi dengan teman-teman serta keluarga. Bahkan mereka cenderung menjadi anak yang tidak peduli dengan lingkungannya. Sampai-sampai saking keasyikan nonton atau main games, bila dipanggil oleh orang tuanya sendiri acuh tak acuh saja. Mereka bisa sampai tidak makan dan minum demi games tercinta.
Sebaiknya ayah dan bunda juga jangan meletakkan televisi di kamar. Apalagi anak sampai tertidur dan televisi dibiarkan terus menyala. Suara dan radiasi televisi akan mempengaruhi kualitas tidur anak sehingga dapat berpengaruh pada konsentrasi mereka.
Deteksi dini kesehatan anak
Anak yang mengalami kesulitan konsentrasi sebaiknya juga diteliti dan diperiksa mengenai kesehatannya. Tidak menutup kemungkinan ternyata mereka sedang merasa lapar dan haus tetapi tidak diungkapkan. Atau terkadang masalah sepele, seperti sariawan juga dapat mengganggu konsentrasi mereka. Ayah bunda juga harus peka dengan kondisi anak, apakah ada anemia atau masalah dengan kelenjarnya. Masalah pendengaran dan penglihatan juga perlu diwaspadai. Jangan-jangan anak sulit konsentrasi karena ada sesuatu hal di telinganya sehingga mereka membutuhkan alat bantu dengar atau anak sulit untuk melihat tulisan di papan tulis sehingga mereka butuh kaca mata.
Selain itu, hal lain yang perlu ayah bunda amati apakah si anak mengalami gangguan hiperaktif defisit perhatian atau Attention Deficit Hyperactive Disorder (ADHD). Anak  yang mengalami ADHD sulit untuk berkonsentrasi dan membutuhkan terapi khusus dibandingkan dengan anak normal yang mengalami kesulitan konsentrasi. Tetapi ayah bunda jangan khawatir, bahwa anak dinilai hiperaktif tidak selalu berarti mereka menderita ADHDUntuk dapat disebut menderita ADHD, anak hiperaktif perlu memiliki karakteristik yang lebih banyak.
Buat topik menarik, kaitkan dengan minat
Mungkin anak ayah bunda termasuk salah satu anak yang berprestasi di sekolah, tetapi tiba-tiba menjadi menurun  prestasinya. Hal ini bisa jadi karena anak bosan dengan materi pelajarannya atau mereka gagal dalam mata pelajaran itu. Sebaiknya, ayah bunda tetap memberi motivasi ke anak untuk bertahan. Tunjukkan kepadanya bahwa ayah bunda memiliki keyakinan penuh bahwa anak ayah bunda mampu melakukannya. Bantu mereka dengan cara apapun yang ayah bunda bisa. Misalnya, seperti yang saya alami, anak saya sering mengalami kesulitan untuk konsentrasi dalam menghapal. Terkadang ia hampir menangis karena sering terbalik-balik dengan apa yang sudah ia hapalkan. Karena ia senang menggambar, maka materi yang harus dihafalkan saya arahkan agar digambar olehnya. Gambar apapun yang mereka sukai, yang penting masih berkaitan dengan materi hapalannya. Memang jadi membutuhkan waktu lebih lama, tetapi metode ini mempermudahnya untuk berkonsentrasi lebih baik.
Contoh lainnya, ketika anak saya harus menghapal sebuah lagu dalam bahasa Inggris, dimana lagu itu belum pernah ia ketahui baik nada dan liriknya. Saya mencoba untuk mendorong rasa ingin tahunya dengan mengajak berinternet sama-sama. Ia mencari sendiri liriknya di google dan kita bernyanyi sama-sama di youtube. Ini akan menyenangkan bagi mereka sekaligus melatih konsentrasi untuk menghapal lirik dan nadanya.
Berikan penghargaan
Keberhasilan anak dalam melakukan sesuatu, mulai dari hal sekecil apapun sebaiknya diberikan penghargaan.    Tidak harus berupa barang, tetapi pujian, ekspresi wajah dan gerakan tubuh ayah bunda akan membantu anak semakin termotivasi untuk melakukan yang lebih baik lagi. Suatu hal yang berhasil dilakukan anak, mungkin akan tampak biasa apabila dilakukan oleh orang dewasa, tetapi bagi mereka, usahanya tersebut khususnya dalam berkonsentrasi, adalah hal yang sangat bermakna. Misalnya, anak usia sekitar 4-5 tahun jika berhasil menyelesaikan tugasnya, baik itu mewarnai, mengerjakan PR dan hal lainnya akan sangat senang bila diberi pengakuan oleh ayah bundanya. Karena anak pada usia ini jika dapat berkonsentrasi selama 5 menit saja, secara umum dapat dikatakan konsentrasinya cukup baik. Oleh karena itu, hargai keberhasilan usaha mereka.
Komunikasi dua arah
Sama halnya orang dewasa. Salah satu penyebab anak sulit berkonsentrasi karena adanya masalah yang mengganggu pikiran mereka. Hal ini dapat menyumbat konsentrasinya, dan akan cair sampai mereka berhasil untuk mengeluarkan hal yang sedang dipikirkannya tersebut. Buatlah komunikasi dua arah yang baik. Telusuri apa yang mengganjal pikiran mereka. Ayah bunda dapat menjadi pendengar yang baik dan penanya aktif. Misalnya apa yang terjadi hari ini di sekolah.
Komunikasi juga dapat dilakukan dalam hal menggali mimpi anak. Pemahaman kenapa konsentrasi, khususnya dalam belajar dibutuhkan oleh mereka harus disampaikan oleh ayah bunda. Setiap anak harus berani bermimpi dan harus memiliki mimpi. Jika anak ingin menjadi dokter, ingin jadi menteri yang jujur, ingin jadi anggota dewan yang luhur, atau ingin menjadi guru yang memiliki banyak anak didik, maka anak akan fokus untuk menggapai mimpinya itu. Ajak mereka berpacu untuk meraih masa depan yang dicita-citakan.
Tempat dan posisi tubuh yang tepat
Konsentrasi belajar dapat dipengaruhi dengan situasi dan lingkungan yang kondusif. Buatlah tempat belajar anak yang nyaman dan sesuai dengan tipe belajarnya. Ada anak yang senang belajar dengan diiringi musik tetapi ada juga yang dapat berkonsentrasi bila suasana hening, sunyi, tidak ada gangguan suara apapun.
Posisi tubuh juga mempengaruhi konsentrasi belajar. Sebaiknya jangan dengan posisi yang salah, seperti tiduran, badan membungkuk sambil meletakkan kepala diatas meja atau sambil nonton tv. Belajarlah dengan posisi duduk di meja belajar dan kursi yang membuat anak nyaman untuk belajar.
Kekhawatiran ayah bunda dengan anak yang sulit konsentrasi bukanlah harga mati yang tidak dapat terselesaikan.    Ini dapat ditangani asalkan ayah bunda mau berusaha dengan berbagai cara yang disesuaikan dengan anak ayah bunda. Jangan sia-siakan usia emas mereka. Seperti diungkapkan oleh Ellen Galinsky dalam bukunya “Mind in, Make” bahwa anak yang memiliki konsentrasi baik dan kontrol diri pada usia sekolah akan lebih penting dalam mencapai keberhasilan akademisnya dibandingkan dengan intelegent quotation (IQ).(Bunda Ranis)
Referensi :
http://www.scholastic.com/parents/resources/article/stages-milestones/how-kids-learn-to-concentrate
http://kelleyward.hubpages.com/hub/Focus-and-Self-Control-Life-Skills-For-Children
http://www.brainy-child.com/article/improve-child-concentration.shtml
http://belajarpsikologi.com/tips-cara-meningkatkan-konsentrasi-belajar-anak
http://www.ourkids.net/blog/eight-ways-to-improve-kids-concentration-20901
 
;