Tidak aneh memang, jika dampak yang ditimbulkan dengan takluknya KOnstantinopel sedemikian besar, karena posisi KOnstantinopel sangat strategis untuk mengendalikan jalannya misi agama dengan kekuatan tentara atas bangsa-bangsa Asia dan Afrika khususnya. Maka pertahanan kota benteng itu sedemikian ketat dan tangguhnya. Dengan perlindungan dan perlengkapan senjata moderen pada saat itu. Dan, jika akhirnya ditaklukan, sudah pasti dengan sebuah strategi luar biasa yang bukan dengan cara biasa.
Strategi hebat yang tidak biasa itu membuat para ahli sejarah yang jujur dan objektif berdecak kagum, baik penulis Barat maupun di Timur. Strategi yang menggambarkan kecerdasan dan luasnya wawasan AL-FATIH. Strategi yang mewakili ketinggian iman dan semangat jihad yang membara. Strategi yang mencerminkan kreativitas dan kemampuan berpikir dan bertindak cepat dan akurat . Strategi yang menceritakan dengan gamblang kualitas pribadi Muhammad AL-FATIH yang sangat spesial. Sebagai seorang Sultan atau Raja, sebagai seorang ayah dan suami, sebagai seorang panglima dan sebagai seorang ulama.
Strategi penaklukan itu diantaranya ; Pertama, beliau memantas-mantaskan diri untuk bisa menjadi sebaik-baik panglima. Karena syarat utama dan pertama seperti yang tersurat dalam Hadits Nabi SAW untuk bisa menaklukkan KOnstantinopel adalah menjadi panglima terbaik. Dan AL-FATIH sudah paham betul bagaimana menerjemahkan panglima terbaik itu. Karena ini berasal dari Sabda NAbi SAW, bukan surat keputusan kerajaan atau wasiat orangtuanya. Maka segala daya upaya dia lakukan untuk menjadi pribadi yang layak disebut terbaik dari kaca mata syariat, dalam pandangan Allah dan Rasul-Nya.
“Sesungguhnya Allah meletakan pedang di tanganku untuk berjihad di jalan-Nya. Maka jika aku tidak mampu untuk bersabar dalam menghadapi kesulitan-kesulitan ini dan tidak aku melakukan kewajiban dengan pedang ini, maka sangat tidak pantas bagiku untuk mendapat gelar Al-Ghozi yang aku sandang sekarang ini. Lalu, bagaimana aku akan menemui Allah pada hari kiamat nanti..?”
“…Wajib bagi setiap pasukan, menjadikan syariat selalu di depan matanya, dan jangan sampai ada di antara mereka yang melanggar syariat yang mulia ini. Hendaklah mereka tidak mengusik tempat-tempat peribadatan dan gereja-gereja. Hendaklah mereka tidak mengganggu para pendeta dan orang-orang lemah tak berdaya…” (pidato Al-Fatih menjelang keruntuhan Konstantinopel)
“Aku bersukur kepada Allah yang telah memberikan kemenangan yang gemilang ini. Akan tetapi, aku juga berdoa kepada-Nya, agar Dia mengijinkanku hidup lebih lama lagi untuk mengepung dan menaklukan Roma. Sebagaimana aku memiliki Roma baru (Konstantinopel) ini.”
“Dia merupakan sultan yang paling hebat di kalangan Bani Utsmani . Dia adalah sultan utama yang memiliki sifat-sifat mulia. Sultan terbesar yang selalu melakukan jihad…” (Abdul Hayy bin Al’Imad Al-Hambali)
“Kalaulah ada pemimpin muslim yang tak pernah masbuq dalam sholatnya, dia-lah Sultan Muhammad Al-Fatih..” (Syaikh Aaq Syamsudin)
Kedua, Sultan Muhammad AL-FATIH membentuk pasukan tentara terbaik. Ini menjadi syarat kedua yang melekat dalam satu kalimat wasiat. Panglima yang hebat tanpa pasukan hebat hanya sia-sia. Apalagi pasukan hebat tanpa panglima hebat, hanya fatamorgana saja. Sebenarnya, dengan takluknya KOnstantinopel sudah menjawab betapa hebatnya panglima dan tentara yang menaklukkannya. Karena seperti itu nubuwatnya. Dan perjalanan sejarah Daulah Turki Utsmani beberapa abad di pentas dunia, dengan menguasai wilayah yang sangat luas, itupun sudah mencerminkan kehebatan pasukan Utsmani ini.
Tapi marilah kita dengar beberapa komentar para sejarahwan tentang kehebatan pasukan Utsmani menurut penilaian objektif mereka ;
“Dedikasi mereka pada jihad, semangat untuk melakukan penaklukkan, tidak terlalu tertarik dengan pertahanan permanen (benteng), tentara yang sangat terlatih dan disiplin tinggi, menggunakan strategi jitu dalam perang terbuka, pemimpin yang baik dan tidak menghabiskan waktunya untuk hiburan-hiburan.” (rene de lusinge, sejarawan)
“Mereka sangat rajin, terbiasa bangun lebih awal dan hidup sederhana. Mereka bisa tidur di manapun, biasanya hanya di tanah. Kuda mereka prima, hanya memerlukan pakan sedikit, larinya kencang dan ketahanannya lama. Ketaatan pada pemimpinnya tidak terbatas, ketika perintah sudah dibunyikan, mereka patuh berbaris rapi dalam keheningan diikuti oleh yang lainnya dengan keheningan yang sama. Seorang tentara Kristen jauh lebih gaduh daripada 10.000 tentara Utsmani. Saya harus mengakui bahwa dalam semua pengalaman saya yang beragam, saya selalu mengenal orang-orang Turki sebagai orang yang jujur dan loyal, serta ketika mereka dibutuhkan untuk menunjukkan keberanian, mereka tidak pernah gagal melakukannya.” (Bertrandon de la Broquiele, pengembara Perancis)
"Pasukan Utsmani laksana kekuatan yang jauh melebihi pasukan manapun. Bila pasukan musuh mengejarnya, mereka bisa mundur dengan cepat. Tapi bila mereka mengejar, musuh takan selamat. Kaum kristen tidak pernah menang melawan Utsmani, apalagi dalam perang terbuka dan kekalahan mereka Karena membiarkan pasukan Utsmani mengelilingi mereka lalu menyerang dari sayap."(Michael, Sang Yeniseri)
”Diantara semua divisi dlm pasukan,YENISERI (pasukan khusus) adalah yang paling terkenal dalam sejarah militer Turki Utsmani karena ketakwaan dan kemahirannya dalam berperang. Seleksi dalam divisi ini lebih ketat dari lainnya. Karena hanya ‘yang istimewa’ yang boleh bergabung. Pemerintah membentuk akademi YENISERI untuk menyiapkan pasukan khusus ini. Selain melatih fisik dan mental, juga diberikan ilmu-ilmu sains dan pemerintahan. Mempelajari Al-Quran menjadi pelajaran wajib, termasuk ibadah-ibadah harian. Sultan selalu menekankan bahwa ketakwaan pada Allah adalah kunci kemenangan. Kekuatan iman menjadi asas daripada fisik, visi kemenangan dari bisyaroh Rasulullah menjadi motor yang menggerakkan aktifitas jihad mereka. Sultan menempatkan ulama disetiap barak tentara, untuk menjaga semangat dan keikhlasan niat mereka.”
“Sampai abad 15, pasukan Turki Utsmani dapat dianggap sebagai pasukan paling moderen. Pasukan reguler digaji secara rutin dan jenjang karir yang transparan.”Peperangan ini adalah salah satu peperangan terbesar dalam sejarah. Kekokohan benteng KOnstantinopel belum terkalahkan. Maka sudah bisa dipastikan betapa besarnya upaya dan usaha Sultan Muhammad Al-Fatih untuk menaklukannya. Sejak dilantik sebagai Sultan saat berusia 19 tahun, Al-Fatih sudah mencanangkan bahwa program terbesarnya, menyiapkan startegi detail penyerangan ke KOnstantinopel. Setiap malam-malamnya dilalui dengan doa dan sujud memohon pertolongan Allah.
Setelah upaya mendekatkan diri (taqorrub) kepada Allah Swt., Al-Fatih mengoptimalkan ikhtiar dengan membuat strategi luar biasa yang tak terbayangkan.
Strategi Ketiga, Membangun benteng kembar di Selat Bosporus. Di tepi selat Bosporus, di bagian wilayah Otoman, Anatolia (asia kecil) dibangun benteng Anadolu Hisari oleh Sultan Beyazid I (buyut Al-Fatih) untuk pertahanan dari serangan Byzantium. Pada tahun 1452, Sultan Al-Fatih, membangun di sisi satunya, di wilayah Eropa, benteng Rumeli Hisari. Sehingga benteng itu seperti kembar yang saling berhadapan, menjaga selat Bosporus.
Pembangunan benteng itu sangat dikhawatirkan oleh pihak Byzantium, Kaisar sudah bisa membaca betapa dirugikannya mereka dengan pembangunan benteng itu. Al-Fatih terus melakukan pembangunan benteng tersebut, dan hanya memerlukan waktu 4 bulan saja untuk menyelesaikan pembangunan benteng Rumeli Hiseri.
Adapun tujuannya adalah : pertama, mengantisipasi pengiriman senjata dari luar untuk keperlun perang KOnstantinopel. Kedua, memotong jalur logistic yang menjadi modal dan perbekalan peperangan. Ketiga, menjaga bala bantuan masuk ke KOnstantinopel. Keempat, mengkontrol arus lalu lintas di selat Bosporus.
Untuk keperluan itu, di kedua benteng itu dipasang Meriam ke arah selat dengan daya jangkau tembakan yang sangat akurat. Strategi pembanguinan benteng Rumeli Hiseri ini benar-benar persiapan sangat tepat untuk memulai perang panjang untuk menaklukan KOnstantinopel.
Strategi Keempat, Memperkuat Pasukan Laut. KOnstantinopel ada kota benteng yang sebagian wilayahnya berbatasan dengan laut. Maka pasukan-pasukan yang pernah menyerangnya juga melalui jalur laut ini. Untuk itulah, Sultan Muhamad Al-Fatih mempersiapkan 400 kapal perang untuk menaklukkan KOnstantinopel.
Strategi Kelima, Mengumpulkan para Ulama dan para ahli dari beragam ilmu. Untuk menyiapkan penyerangan besar ke KOnstantinopel, dibutuhkan dukungan dari semua pihak dan kebutuhan biaya yang tidak sedikit. Termasuk kebutuhan akan sumbang saran dari berbagai kalangan dengan kemampuan ilmu yang berbeda-beda.
Strategi Keenam, Mempelajari secara detail peta benteng KOnstantinopel. Untuk keperluan itu Al-Fatih mengirim beberapa mata-mata masuk ke benteng untuk bisa menggambarkan keadaan benteng secara detail. Sehingga bisa ditetapkan bagian mana yang pertahannnya lemah, sisi mana terletak gudang amunisi, sebelah mana logistic dan seterusnya.
Strategi Ketujuh, Memanfaatkan fenomena alam. Peperagan yang tengah direncanakan adalah peperangan besar dengan kekuatan tak tertandingi. Untuk itu segala bekal dan kekuatan dikerahkan, termasuk kekuatan ilmu pengetahuan. Diantaranya kemampuan para ulama Utsmani memperkirakan akan terjadinya gerhana bulan. Fenomena ilmuah itu ditanggapi rakyat Byzantium yang masih sangat kental dengan khurafatnya dengan ketakutan luar biasa. Mereka percaya itu sebagai pertanda kekalahan mereka atas tentara Turki Utsmani. Dalam kondisi seperti itulah Al-Fatih melakukan penyerangan.
Strategi Kedelapan, Mempelajari dan mengikutipeta perkembangan Negara-negara Eropa. Hal itu untuk mengetahui sejauh mana keberpihakan mereka ke Byzantium. Beberpa Negara diikat perjanjian damai, agar tidak membantu Byzantium saat diserang. Hal itupun agar mudah membaca pergerakan bantuan dari luar saat penyerangan ke KOnstantinopel dilakukan.
Mengapa KOnstantinopel Penting untuk ditaklukkan
Kira-kira apa yang ada dalam benak para sahabat Rasulullah SAW. saat mendengar akan takluknya KOnstantinopel? Dan mengapa nama KOnstantinopel yang disebut? Dua pertanyaan itu menarik untuk saya dikunyah-kunyah sebagai proses pelemasan memori yang mulai lamban. Tidak perlu terlalu serius menjawabnya, meski bisa berpotensi rumit berbelit-belit dengan beragam menu analisisnya. Saya hanya mencoba menyelami sendiri seciduk ma'rifah yang tersisa terseret usia.
Takdir umat ini adalah sebagai pemenang. Dan syarat menjadi pemenang adalah ; memimpin dan visioner atau ‘mengetahui’ masa depan. Ini lah satu kunci rahasia, mengapa da'wah Islam begitu cepat menyebar dan diterima. Dan peradaban Islam tumbuh berkembang sedemikian masif dan konstruktif. Kondisi yang sangat kondusif itu membuat banyak sekali lompatan kebaikan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan personal maupun komunal. Menjadi berubah cepat berganti kulit dari kelompok tertinggal, liar dan jahiliyah menjadi orang terpelajar, beradab dan memimpin. Dari pribadi dan bangsa biasa saja menjadi pribadi dan bangsa luar biasa.
Jika dipreteli kata memimpin dan visioner akan mempunyai turunan-turunan yang saling mengait. Bisa saja dari kata memimpin terlahir nilai-nilai belajar, berjuang, berstrategi, berkorban, dan seterusnya. Lalu visioner menurunkan nilai-nilai keyakinan, optimisme, perencanaan, pembelajaran, analisa dan seterusnya. Dan akumulasi semua nilai-nilai langit itu menjadi ledakan dahsyat potensi yang ada dalam tubuh umat ini menjadi perubahan ‘tak terkendali’ dalam mental, spiritual, intelektual maupun sosial.
Kembali ke dua pertanyaan di atas, kondisi para sahabat Nabi SAW saat mendengar berita akan jatuhnya KOnstantinopel saya yakin biasa-biasa saja. Maksudnya mereka sangat percaya dan sangat yakin hal itu pasti akan terjadi. Mengapa biasa-biasa saja..? Karena mereka sudah mempercayai janji yang lebih ’mustahil’ dari itu. Karena mereka telah sangat menyakini akan terjadinya hari hari kiamat, jiwa akan dibangkitkan, terjadinya perhitungan amal, adanya mizan,sirath, dan penghakiman sejati. Lalu mereka akan abadi di surga yang penuh kenikmatan, dimana mata tak mampu menerjemahkan, telinga tak bisa mendefinisikan dan nalar tak bisa lagi menjelaskan segala kenikmatan yang dihidangkan. Mereka sudah meyakini semua itu, apalagi sekedar akan jatuhnya KOnstantinopel.
Lalu mengapa KOnstantinopel yang disebut oleh Nabi SAW, karena ; pertama, KOnstantinopel adalah ibukota Byzantium Romawi. Satu dari dua kota Nasrani yang menjadi seteru kaum Muslimin saat itu. Roma di Barat dan KOnstantinopel di Timur. Dua kota itu adalah simbol penguasa dan negara yang menjadi super power tak terkalahkan. dengan penyebutan KOnstantinopel sebagai pihak yang akan dikalahkan, Nabi SAW. sudah menanamkan nilai optimisme dan rasa percaya diri yang tinggi tentang sebuah kemenangan. Kedua, KOnstantinopel juga mewakili pusat kekuatan spiritual atau simbul agama. Dalam sejarah, pertentangan agama menjadi tak terpisahkan dengan kekuasan. Dengan penyebutan kejatuhan KOnstantinopel, Nabi SAW telah menanamkan keyakinan akan kebenaran Islam bagi para sahabat-sahabatnya ra. Ketiga, KOnstantinopel adalah simbul kekuatan militer tercanggih. Jika Islam mempunyai visi menjadi memimpin, maka syaratnya harus ‘mengalahkan‘ pihak terkuat yang berkuasa saat itu. Dan terakhir, KOnstantinopel adalah gerbang Eropa. Dengan takluknya gerbang itu, kejatuhan Eropa hanya menunggu waktu saja.
Sejarah mencatat, setelah Sultan Muhammad Al-Fatih menaklukan KOnstantinopel, Beliau membawa tentaranya menuju Roma. Kota lain yang diisyaratkan Nabi SAW. yang juga akan ditaklukan. Ketakutan sudah menjalari nadi Eropa, mereka sudah pasrah menghadapi akhir usianya dalam taklukkan Islam. Namun takdir menentukan lain, beliau sakit dan wafat. Pasukan ditarik mundur dan tertundalah jatuhnya Roma saat itu.
Allah sengaja menyisakan Roma dalam rentang sejarah selanjutnya, agar umat ini tetap mempunya visi penaklukan dan selalu bergairah dalam berjuang dan membuat perencanaan ke depan.
Seperti saya sebut di atas, saya hanya mencoba menyelam sendiri, dan ada butir-butir sederhana yang saya dapat. Pastinya masih banyak lagi butir-butir lain yang berserakan di semesta ilmu dan ma'rifah kita. Wallahu a'lam bisshawab.

0 komentar:
Posting Komentar