Rabu, 23 Maret 2016

Mengapa Pria Benci jika Salah

Untuk mengerti mengapa pria benci jika salah, maka penting sekali untuk mengerti sejarah dari mana sikap tersebut berasal. Bayangkan kejadian ini ! di dalam gua sebuah keluarga sedang berjongkok di dekat api unggun. Pria duduk di depan jalan masuk gua sambil memandangi pemandangan dan menatap cakrawala mencari – cari sesuatu yang bergerak. Istri dan anak – anaknya sudah tidak makan selama berhari –hari dan ia tahu bahwa ia harus berburu besok pagi sekali dan tidak akan kembali hingga mendapatkan makanan. Ini adalah perannya dan keluarganya bergantung padanya. Mereka lapar tetapi percaya ayah mereka akan berhasil seperti biasanya. Perutnya bergolak dan ia sama sekali tidak takut. Apakah ia akan berhasil lagi ? apakah keluarganya akan kelaparan ? apakah pria lain akan membunuhnya karena ia begitu lemah karena lapar ? ia hanya duduk di sana dengan wajah berkesan kosong – menatap. ia tidak boleh memperlihatkan tanda – tanda ketakutan pada keluarganya karena bisa menjadi kecil hati. Ia harus kuat!
Ketika berbuat salah, seorang pria menganggap dirinya seorang yang gagal karena tidak sanggup mengerjakan kewajibannya dengan benar.
Selama jutaan tahun tidak mau terlihat sebagai orang yang gagal, tampaknya hal itu tersusun dalam otak pria modern. Kebanyakan wanita tidak tahu jika seorang sedang mengemudikan mobilnya sendirian, mungkin saja ia akan berhenti dan menanyakan arah. Tetapi melakukan hal itu ketika pasangannya berada di dalam mobilnya, akan membuat dirinya menjadi seorang yang gagal karena tidak sanggup tiba di tujuan.
Ketika seorang wanita berkata, “ayo kita tanya arah,” seorang pria akan mendengarnya sebagai , “ kau payah, kau tidak bisa menemukan jalan itu .“

Jika seorang wanita berkata, “ ledeng di dapur bocor, ayo kita panggil tukang ledeng,” ia akan mendengarnya sebagai, “kau tidak ada gunanya, aku akan memanggil pria lain untuk mengerjakannya !”
Ini juga menjadi alasan mengapa pria sulit untuk mengatakan, “maafkan aku.” Mereka menganggap itu sebagai pengakuan kesalahan, padahal kesalahan adalah kegagalan baginya.
Untuk mengatasi masalah ini, seorang wanita harus meyakinkan bahwa dia tidak akan membuat pria merasa dirinya bersalah ketika dia membicarakan masalah dengan pasangannya. Bahkan menghadiahi seorang pria buku tentang ‘ menolong diri sendiri’ pada ulang tahunnya saja sudah sering ditafsirkan sebagai, “ kau tidak terlalu andal.”
Pria membenci kritik, karena itulah mereka suka menikahi dengan perawan.
Seorang pria harus mengerti bahwa tujuan seorang wanita bukanlah ingin membuatnya merasa bersalah, tetapi membantunya dan ia seharusnya tidak tersinggung.seorang wanita ingin pria yang dikasihinya itu menjadi labih baik tetapi kakasihnya menafsirkan sebagai pernyataan bahwa ia tidak cukup baik.seorang pria tidak mau mengakui kesalahannya karena ia mengira, pasangannya tidak akan mencintainya lagi. Tetapi kenyataannya, seorang wanita akan semakin mencintai pria jika ia mau mengakui kesalahannya.



Sumber dari : Allan & Barbara Pease ( dalam bukunya why men don’t listen and women can’t read maps )

0 komentar:

Posting Komentar

 
;